Aroma Kopi dalam Doa Hujan Puisi Tentang Kopi dan Hujan
Aroma Kopi dalam Doa Hujan
Pagi ini hujan datang dengan tenang,
seperti doa yang turun tanpa suara.
Di dapur kecil,
kopi mulai diseduh,
aromanya naik perlahan
menyentuh ruang dan perasaan.
Aku berdiri diam,
mendengarkan rintik
yang jatuh satu per satu,
seakan langit sedang berzikir
menyebut nama-nama
yang tak lagi kusebut keras-keras.
Aroma kopi memenuhi udara,
hangat, pahit, jujur.
Ia membawaku kembali
pada pagi-pagi sederhana,
saat harap masih utuh
dan takut belum bernama.
Di luar, hujan berdoa
dengan caranya sendiri.
Ia membersihkan jalan,
daun, dan luka yang menempel.
Tak bertanya apa yang hilang,
tak menuntut apa yang tersisa.
Aku meneguk kopi perlahan,
membiarkan panasnya
mengalir ke dalam dada.
Ada nama yang ikut larut,
ada rindu yang tak lagi melawan,
hanya ikut menghangat.
Doa-doa kecil berjatuhan
bersama hujan.
Tentang menerima,
tentang melepaskan,
tentang belajar percaya
bahwa tak semua yang pergi
harus kembali.
Aroma kopi bertahan lebih lama
daripada hujan.
Ia menetap,
seperti kenangan baik
yang tak ingin menyakiti.
Pahitnya tak lagi keras,
karena hati telah belajar lapang.
Ketika hujan reda
dan cangkirku hampir kosong,
aku menutup mata sejenak.
Menyimpan doa terakhir:
semoga apa pun yang hilang
telah sampai
pada tempat terbaiknya.
Aroma kopi dalam doa hujan
meninggalkanku
dengan rasa tenang
bahwa hidup, seperti kopi dan hujan,
kadang pahit, kadang basah,
namun selalu membawa
cara sendiri
untuk menguatkan.
Aroma kopi berperan sebagai penghubung antara masa kini dan kenangan masa lalu. Kehangatannya membangkitkan ingatan tentang kesederhanaan, harapan, dan rasa aman yang pernah ada. Kepahitan kopi tidak dilukiskan sebagai penderitaan, melainkan sebagai bagian dari kejujuran hidup yang harus diterima tanpa penolakan.
Aku lirik dalam puisi ini berada pada fase refleksi dan pendewasaan emosional. Ia tidak lagi bergulat dengan kehilangan, tetapi menyimpannya dalam doa-doa kecil yang jatuh bersama hujan. Rindu tidak diusir, melainkan dilembutkan dan diletakkan pada tempatnya sebagai bagian dari pengalaman batin yang membentuk diri.
Pada bagian akhir, puisi ini menegaskan ketenangan sebagai hasil dari penerimaan. Hujan yang reda dan cangkir kopi yang hampir kosong menjadi penanda berakhirnya perenungan. Aroma kopi yang bertahan melambangkan kenangan baik yang tetap tinggal tanpa melukai. Puisi ini mengajak pembaca memahami bahwa hidup tidak selalu harus dimengerti sepenuhnya, cukup dijalani dengan doa, kesadaran, dan keikhlasan.

Post a Comment