Berdiri di Antara Salah dan Amanah Puisi Tentang Diamnya Laki-Laki

Table of Contents
Berdiri di Antara Salah dan Amanah Puisi Tentang Diamnya Laki-Laki

Berdiri di Antara Salah dan Amanah
Oleh : Penulis Indie

Aku berdiri di satu titik
yang tak pernah benar-benar netral.
Di satu sisi, kesalahan yang diwariskan keadaan,
di sisi lain, amanah
yang tak boleh dibiarkan runtuh.
Aku tidak memilih persimpangan ini,
namun hidup menaruhku di sini
tanpa peta,
tanpa petunjuk arah.

Ada hari-hari
di mana aku ingin menjelaskan segalanya,
membersihkan namaku
dari prasangka yang terlalu cepat tumbuh.
Namun aku belajar,
bahwa tidak semua kebenaran
perlu diperjuangkan dengan suara.
Kadang, diam
adalah cara paling jujur
untuk tetap waras.

Aku memikul tanggung jawab
bukan karena aku paling kuat,
melainkan karena jika aku melepaskannya,
ada yang akan jatuh
dan tidak tahu bagaimana cara bangkit.
Maka aku bertahan,
meski pundak ini sering gemetar
dan hati tak selalu setegar yang diharapkan.

Di mata dunia,
aku mungkin salah.
Namun di hadapan nurani,
aku sedang menjaga.
Menjaga janji,
menjaga kepercayaan,
menjaga doa
yang tidak boleh tercecer
di tengah keributan penilaian manusia.

Malam-malam menjadi saksi
bagaimana aku berbicara pada Tuhan
dengan bahasa yang paling sederhana.
Tentang lelah yang tak ingin kubagi,
tentang takut yang kupendam,
tentang iman
yang kadang hampir lepas,
namun selalu kembali
ketika kusebut nama-Nya.

Aku tahu,
hidup tidak selalu memberi pilihan yang bersih.
Sering kali kita dipaksa memilih
yang paling sedikit melukai,
bukan yang paling benar
menurut ukuran dunia.
Dan di sanalah aku berdiri,
di antara salah dan amanah,
menjadi manusia
yang terus belajar jujur
pada niatnya sendiri.

Jika suatu hari aku jatuh,
jangan hanya melihat salahku.
Lihat juga amanah
yang coba kujaga
dengan sisa tenaga.
Sebab tidak semua yang tampak keliru
lahir dari niat yang rusak.
Ada yang hanya terlalu setia
pada tanggung jawab
hingga lupa menjaga diri sendiri.

Dan bila kelak aku selesai,
biarlah Tuhan yang menilai.
Sebab aku tahu,
di antara salah dan amanah,
aku telah memilih bertahan
tanpa mengkhianati
apa yang paling kutakuti kehilangan:
nurani
dan kejujuran hati.
Aceh, 30 Januari 2026
(Puisi ini ditulis dengan bantuan AI berdasarkan gagasan dan arahan penulis).

*** 

Puisi “Berdiri di Antara Salah dan Amanah” menggambarkan pergulatan batin seseorang yang berada pada posisi sulit ketika ia harus memikul tanggung jawab di tengah kesalahan, penilaian, dan keadaan yang tidak sepenuhnya adil. Tokoh dalam puisi ini tidak ditempatkan sebagai sosok yang benar tanpa cela, melainkan sebagai manusia yang berusaha menjaga amanah meski harus menerima cap salah di mata dunia.

Judul puisi menjadi simbol konflik utama: “salah” merepresentasikan penilaian, tuduhan, dan konsekuensi yang kerap datang tanpa melihat niat; sementara “amanah” melambangkan tanggung jawab moral, janji, dan kepercayaan yang tidak boleh dikhianati. Berdiri di antara keduanya berarti berada dalam posisi serba terhimpit, namun tetap memilih bertahan.

Puisi ini menyoroti diam sebagai sikap dewasa. Diam bukan bentuk kepasrahan, melainkan cara menjaga kewarasan dan nurani ketika penjelasan tidak lagi mampu memperbaiki keadaan. Tokoh aku memilih memikul beban tanpa banyak pembelaan demi melindungi orang lain dari dampak yang lebih besar.

Relasi dengan Tuhan menjadi ruang paling jujur dalam puisi ini. Malam-malam sunyi menjadi saksi dialog batin yang sederhana namun mendalam—tentang lelah, takut, dan iman yang nyaris goyah. Tuhan hadir sebagai tempat kembali, bukan untuk menghapus beban, tetapi untuk memberi kekuatan agar tetap sanggup bertahan.

Puisi ini juga mengingatkan bahwa hidup jarang menawarkan pilihan yang benar-benar bersih. Sering kali manusia dipaksa memilih jalan yang paling sedikit melukai, bukan yang paling ideal. Dalam kondisi itulah tokoh aku berdiri, menjaga niat dan kejujuran meski harus menerima kesalahpahaman.

Pada akhirnya, puisi ini menegaskan bahwa penilaian manusia tidak selalu menjadi ukuran kebenaran. Ketika seseorang telah berusaha menjaga amanah dengan niat yang lurus, biarlah Tuhan yang menjadi penilai terakhir. Puisi ini mengajak pembaca untuk memahami bahwa di balik kesalahan yang tampak, bisa jadi ada kesetiaan yang terlalu besar terhadap tanggung jawab dan nurani.

Post a Comment