Di Antara Diam yang Panjang dan Tanggung Jawab yang Tak Pernah Pulang Puisi Tentang Laki-Laki

Table of Contents
Di Antara Diam yang Panjang dan Tanggung Jawab yang Tak Pernah Pulang Puisi Tentang Laki-Laki

Di Antara Diam yang Panjang dan Tanggung Jawab yang Tak Pernah Pulang
Oleh : Muraz Riksi

Aku belajar menjadi manusia
dari hal-hal yang tak pernah diajarkan secara lantang.
Dari letih ayah yang pulang tanpa cerita,
dari ibu yang menyimpan doanya di lipatan sajadah,
dan dari waktu
yang tidak pernah menawar beban.

Hidup tidak selalu bertanya
apakah kita siap.
Ia datang begitu saja,
membawa peran, amanah, dan kesalahan
yang kadang bukan kita yang memulainya
namun kitalah yang harus menanggung akhirnya.

Aku melihat banyak lelaki
belajar kuat dengan cara yang sunyi.
Tidak menangis di hadapan dunia,
namun remuk di hadapan Tuhan.
Sebab tanggung jawab
bukan tentang dipuji atau disalahkan,
melainkan tentang
tetap berdiri
meski kaki ingin menyerah.

Di usia tertentu,
kita berhenti mengejar tepuk tangan.
Kita mulai sibuk
menjaga janji,
menutup aib orang lain,
dan memaafkan keadaan
yang tak bisa kita ubah.

Tidak semua orang mengerti
mengapa kita memilih diam.
Padahal diam
bukan berarti kalah,
melainkan cara paling dewasa
untuk tidak menambah luka
di dunia yang sudah terlalu bising.

Aku tahu,
tidak semua doa langsung dijawab.
Ada yang ditunda,
ada yang diubah bentuknya,
dan ada yang hanya dijadikan kekuatan
agar kita sanggup bertahan hari ini.

Di antara salah dan benar,
kita sering berdiri sendirian.
Menjadi penengah,
menjadi penyangga,
menjadi yang paling terakhir diperhatikan
namun paling pertama dimintai pengertian.

Jika kelak hidup menuliskan namaku
dalam daftar kesalahan,
aku ingin ia juga mencatat
bahwa aku pernah berusaha jujur,
pernah memilih bertanggung jawab
meski harus kehilangan banyak hal.

Sebab pada akhirnya,
kita tidak diukur dari seberapa keras suara kita,
melainkan seberapa lama
kita sanggup bertahan
tanpa mengkhianati nilai
yang kita yakini.

Dan jika suatu hari aku lelah,
biarlah aku istirahat sejenak
di antara doa dan sujud,
sebab di sanalah
aku kembali diingatkan:
bahwa menjadi manusia
bukan tentang sempurna,
tetapi tentang tetap bertanggung jawab
hingga akhir cerita.
Aceh, 29 Januari 2026

*** Puisi “Di Antara Diam yang Panjang dan Tanggung Jawab yang Tak Pernah Pulang” berbicara tentang perjalanan batin seorang manusia khususnya seorang laki-laki dalam memaknai hidup, tanggung jawab, dan keheningan yang sering kali tidak dipahami oleh banyak orang. Narasi puisi tidak disampaikan dengan kemarahan atau teriakan, melainkan dengan ketenangan yang lahir dari pengalaman, luka, dan penerimaan.

Pada bagian awal, puisi menekankan bahwa banyak nilai kehidupan tidak dipelajari dari kata-kata, tetapi dari contoh nyata: lelahnya ayah, doa ibu, dan waktu yang terus berjalan tanpa kompromi. Ini menjadi fondasi pemahaman bahwa hidup sering kali memaksa seseorang dewasa sebelum benar-benar siap.

Puisi kemudian mengangkat tema tanggung jawab sebagai sesuatu yang tidak selalu adil. Tidak semua beban berasal dari kesalahan pribadi, namun tetap harus dipikul dengan kesadaran dan keikhlasan. Di sinilah puisi menyoroti kedewasaan: memilih bertahan dan bertanggung jawab meski tidak dipahami, disalahkan, atau diabaikan.

Keheningan atau diam dalam puisi ini bukan simbol kelemahan, melainkan bentuk kebijaksanaan. Diam menjadi cara untuk menjaga diri, menjaga orang lain, dan tidak menambah kerusakan di tengah dunia yang penuh kebisingan. Sikap ini mencerminkan kedalaman batin dan kekuatan spiritual seseorang.

Aspek religius hadir secara halus, terutama dalam relasi antara manusia dan Tuhan. Doa yang tidak selalu terjawab, sujud sebagai tempat kembali, dan kelelahan yang dititipkan kepada Tuhan menunjukkan bahwa iman menjadi sandaran utama ketika dunia tidak memberikan jawaban.

Di bagian akhir, puisi menegaskan bahwa hidup bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang konsistensi menjaga nilai dan tanggung jawab hingga akhir. Puisi ini menjadi refleksi bahwa manusia pada akhirnya akan dinilai bukan dari pengakuan orang lain, tetapi dari kejujuran hati dan kesanggupan bertahan tanpa mengkhianati prinsip hidupnya.

Secara keseluruhan, puisi ini adalah cermin bagi mereka yang memilih diam, memikul beban, dan tetap berdiri meski tidak selalu terlihat kuat di mata dunia. Puisi ini mengajak pembaca untuk memahami bahwa di balik keheningan, sering kali ada kekuatan yang paling tulus.


***
Demikian teks Puisi tentang Diamnya Laki-Laki.

(Catatan Penutup)
Terima kasih telah berkunjung ke website Sampah Kata.
Salam kopi pahit...

Post a Comment