Di Meja Kayu: Kopi, Hujan, dan Kenangan Puisi Tentang Kopi dan Hujan
Di Meja Kayu: Kopi, Hujan, dan Kenangan
Di meja kayu yang telah hafal
bekas siku dan usia,
aku kembali duduk
membiarkan waktu berjalan tanpa arah.
Serat-seratnya menyimpan cerita,
seperti dadaku yang tak pernah benar-benar kosong.
Secangkir kopi terdiam di hadapanku,
asapnya naik perlahan,
membawa aroma pagi
dan sisa-sisa percakapan lama.
Di luar jendela, hujan jatuh
seperti ingatan yang tak tahu caranya pulang.
Meja ini pernah menjadi saksi
tawa yang kita anggap abadi,
janji-janji kecil
yang kita ucapkan tanpa ragu.
Kini, yang tersisa
hanya bunyi rintik dan kursi kosong
yang belajar setia pada diam.
Aku menyentuh permukaan kayu,
dingin, kasar, jujur.
Seperti hidup yang tak selalu ramah,
namun selalu nyata.
Di sana, kenangan berbaris rapi,
menunggu disentuh atau dibiarkan.
Kopi mulai mendingin,
namun pahitnya tetap tinggal.
Aku menyesapnya perlahan,
seolah ingin memastikan
bahwa rasa ini masih sanggup
kutanggung sendirian.
Hujan semakin rapat,
mengetuk jendela dengan sabar.
Ia tidak bertanya siapa yang kutunggu,
tidak peduli mengapa aku diam.
Ia hanya hadir,
seperti kenangan yang tak pernah pergi sepenuhnya.
Di meja kayu ini,
aku belajar tentang kehilangan
tanpa suara,
tentang rindu tanpa tujuan,
tentang menerima tanpa perlawanan.
Ketika hujan mulai lelah
dan kopi tinggal ampas,
aku pun bangkit perlahan.
Meja kayu tetap di sana,
menyimpan aku yang dulu,
sementara aku melangkah
menjadi aku yang sedang belajar merelakan.
***Puisi “Di Meja Kayu: Kopi, Hujan, dan Kenangan” menghadirkan suasana kontemplatif tentang ingatan, kehilangan, dan proses berdamai dengan masa lalu. Meja kayu berfungsi sebagai simbol ruang waktu, tempat berbagai peristiwa sederhana namun bermakna pernah terjadi dan kini hanya tersisa jejaknya. Ia menjadi saksi bisu yang setia, menyimpan tawa, percakapan, dan janji yang tak lagi memiliki suara.
Kopi melambangkan rasa hidup yang jujur dan tak selalu hangat. Kepahitannya mencerminkan pengalaman emosional yang harus diterima apa adanya, sementara uapnya menggambarkan kenangan yang perlahan naik ke permukaan kesadaran. Hujan, di sisi lain, hadir sebagai representasi waktu dan perasaan yang datang tanpa diminta. Ia tidak bertanya, tidak menuntut, namun terus hadir dan mengisi ruang sunyi.
Aku lirik dalam puisi ini tidak melawan kenangan, melainkan memberi ruang padanya. Kesendirian digambarkan bukan sebagai kekosongan, tetapi sebagai momen pembelajaran. Kursi kosong, kopi yang mendingin, dan hujan yang mengetuk jendela mempertegas suasana kehilangan yang tenang, bukan meledak-ledak, namun justru lebih dalam.
Pada bagian akhir, puisi ini bergerak menuju pelepasan. Hujan yang reda dan kopi yang tersisa ampas menjadi penanda berakhirnya satu fase batin. Meja kayu tetap tinggal, menyimpan versi lama dari aku lirik, sementara ia sendiri melangkah pergi dengan kesadaran baru: menerima bahwa kenangan tidak harus dihapus, cukup diletakkan pada tempatnya.

Post a Comment