Hujan Menyeduh Kopi di Dadaku Puisi Tentang Kopi dan Hujan
Hujan Menyeduh Kopi di Dadaku
Hujan datang tanpa mengetuk,
membawa dingin yang perlahan
menyusup ke sela-sela ingatan.
Di dadaku,
ia menyeduh sesuatu yang lama tertinggal
kopi hitam bernama rindu.
Aku berdiri di ambang waktu,
menatap langit yang runtuh pelan-pelan.
Setiap tetes hujan
adalah kata yang tak sempat kita ucapkan,
jatuh, pecah, lalu larut
di tanah kesabaran.
Di dalam dada ini,
kopi mulai menghangat,
pahitnya merambat ke nadi,
mengaduk kenangan
yang pernah kita jaga
seperti api kecil di tengah angin.
Hujan tahu caranya
membuka pintu yang sudah kukunci.
Ia tidak memaksa,
hanya menetap,
hingga hatiku tak lagi sanggup
berpura-pura kering.
Kau hadir dalam aroma,
dalam uap yang naik perlahan,
dalam diam yang terlalu ramai.
Aku meneguk perasaan ini
tanpa gula, tanpa penyangkalan,
sebab rindu tak pernah butuh alasan.
Dulu, kita percaya
bahwa hangat akan selalu menang dari dingin.
Kini, aku belajar
bahwa keduanya bisa berdamai
di satu dada yang sama.
Hujan terus menyeduh,
membiarkan kopi ini matang oleh waktu.
Tak lagi kuharap manis,
cukup jujur
dalam pahit yang menyadarkan.
Ketika hujan reda,
dan dadaku kembali sunyi,
aku tahu:
ada rasa yang tak perlu diusir,
cukup diterima
hingga ia lelah sendiri.
Sebab hujan yang menyeduh kopi di dadaku
bukan tentang kau yang pergi,
melainkan tentang aku
yang akhirnya berani
merasakan sepenuhnya
tanpa melarikan diri.
Kopi yang “diseduh” di dada melambangkan perasaan pahit yang perlahan menghangat. Rindu tidak langsung menyakitkan, tetapi bekerja pelan, meresap ke dalam nadi dan kesadaran. Proses menyeduh ini menggambarkan waktu: perasaan tidak bisa dipaksa hilang, ia harus dialami hingga matang dengan sendirinya.
Puisi ini juga menekankan kejujuran emosi. Tidak ada usaha mempermanis rasa dengan penyangkalan atau ilusi. Aku lirik memilih menerima pahitnya rindu apa adanya, karena justru dari kepahitan itu muncul kesadaran dan kedewasaan emosional. Dingin dan hangat, hujan dan kopi, masa lalu dan masa kini semuanya berdamai dalam satu ruang batin.
Pada bagian akhir, puisi ini bergerak menuju penerimaan. Hujan yang reda menandai ketenangan baru, bukan karena perasaan itu hilang sepenuhnya, melainkan karena aku lirik telah berhenti melawan. Puisi ini bukan tentang kehilangan semata, melainkan tentang keberanian untuk merasakan sepenuh hati dan membiarkan perasaan menyelesaikan perjalanannya sendiri.

Post a Comment