Ketika Tanggung Jawab Menjadi Nama Puisi Tentang Diamnya Laki-Laki

Table of Contents
Ketika Tanggung Jawab Menjadi Nama Puisi Tentang Diamnya Laki-Laki

Ketika Tanggung Jawab Menjadi Nama
Oleh : Penulis Indie

Sejak hari itu,
namaku bukan lagi sekadar panggilan.
Ia berubah menjadi kewajiban,
menjadi alasan untuk bangun
meski tubuh masih ingin menyerah.
Di hadapan dunia,
aku mungkin hanya seorang biasa,
namun di hadapan mereka yang kutanggung,
aku adalah harapan
yang tidak boleh runtuh.

Hidup tak pernah memberiku jeda
untuk benar-benar memilih.
Ia hanya berkata:
“ini bagianmu.”
Maka aku berjalan,
membawa langkah yang kadang gemetar,
namun tetap kuarahkan
ke depan,
karena kembali
bukan pilihan.

Aku belajar,
bahwa menjadi dewasa
bukan tentang bebas dari salah,
melainkan tentang berani menanggung akibat.
Ada kesalahan yang bukan kumulai,
namun tetap harus kuselesaikan.
Ada luka yang bukan milikku,
namun harus kujahit
agar tidak melukai yang lain.

Aku jarang menjelaskan diri.
Bukan karena tak punya alasan,
tetapi karena lelah
menyusun kalimat
untuk telinga
yang hanya ingin menyalahkan.
Diam menjadi bahasa paling aman
agar nurani tetap terjaga.

Di pundakku,
bukan hanya beban hidup yang bertumpu,
tetapi juga doa-doa
yang tak sempat kusebutkan namanya.
Doa agar aku cukup kuat,
cukup sabar,
dan cukup jujur
untuk tidak melarikan diri
dari peranku sendiri.

Pada malam yang sunyi,
aku sering berbicara pada Tuhan
tanpa banyak kata.
Aku tahu,
Ia mengerti letih
yang tidak mampu kuceritakan.
Di hadapan-Nya,
aku bukan penopang siapa pun,
aku hanya hamba
yang ingin tetap bertahan
tanpa kehilangan iman.

Jika suatu hari aku jatuh,
jangan buru-buru menilainya sebagai kalah.
Mungkin aku hanya sedang duduk sejenak,
menata ulang napas,
menguatkan kembali niat
yang hampir habis.
Sebab tanggung jawab
bukan tentang tidak pernah runtuh,
melainkan tentang
selalu bangkit
meski berulang kali jatuh.

Dan bila kelak namaku dilupakan,
aku tidak keberatan.
Asal tugasku selesai,
asal amanahku tertunaikan,
asal mereka yang kutanggung
masih bisa melangkah
dengan lebih ringan.
Sebab ketika tanggung jawab
telah menjadi nama,
hidup bukan lagi tentang diri sendiri,
melainkan tentang
bertahan demi orang lain.
Aceh, 30 Januari 2026
(Puisi ini ditulis dengan bantuan AI berdasarkan gagasan dan arahan penulis).

*** Puisi “Ketika Tanggung Jawab Menjadi Nama” mengisahkan perubahan identitas seseorang ketika hidup tidak lagi berpusat pada dirinya sendiri, melainkan pada amanah yang harus ia pikul. Nama dalam puisi ini tidak sekadar penanda diri, tetapi simbol peran, kewajiban, dan harapan orang lain yang melekat pada hidup tokoh aku.

Sejak awal puisi, pembaca diajak memahami bahwa tanggung jawab sering datang tanpa pilihan. Ia hadir sebagai kenyataan yang harus dijalani, bukan sebagai sesuatu yang bisa ditawar. Tokoh dalam puisi digambarkan sebagai sosok biasa yang dipaksa keadaan untuk menjadi penopang, bahkan ketika dirinya sendiri belum sepenuhnya siap.

Puisi ini menyoroti kedewasaan sebagai keberanian menanggung akibat, bukan sekadar kemampuan menghindari kesalahan. Banyak beban yang dipikul bukan berasal dari kesalahan pribadi, namun tetap harus diselesaikan demi menjaga orang lain dari luka yang lebih besar. Hal ini menunjukkan sisi pengorbanan yang sunyi dan jarang mendapat pengakuan.

Diam kembali menjadi tema penting dalam puisi ini. Diam dipilih bukan karena ketidakmampuan berbicara, melainkan sebagai bentuk penjagaan nurani dan ketahanan batin. Dalam dunia yang mudah menghakimi, tokoh aku memilih keheningan agar tidak larut dalam pembelaan diri yang melelahkan.

Relasi dengan Tuhan menjadi pusat kekuatan tokoh. Pada malam-malam sunyi, Tuhan menjadi satu-satunya tempat bersandar tanpa tuntutan. Di hadapan Tuhan, tokoh aku tidak lagi memikul peran apa pun ia kembali menjadi hamba yang lelah namun berharap tetap diberi iman dan keteguhan.

Bagian akhir puisi menegaskan bahwa tanggung jawab sejati tidak diukur dari seberapa sering seseorang jatuh, melainkan dari kesediaannya untuk bangkit dan menyelesaikan amanah hingga akhir. Bahkan ketika nama pribadi dilupakan, nilai hidup tetap terjaga selama tanggung jawab telah ditunaikan.

Secara keseluruhan, puisi ini adalah refleksi tentang pengabdian yang sunyim tentang bagaimana seseorang rela menghilangkan egonya demi orang lain. Puisi ini mengajak pembaca memahami bahwa ketika tanggung jawab telah menjadi nama, hidup berubah menjadi perjalanan panjang untuk tetap bertahan dengan kejujuran dan keteguhan hati.


***
Demikian teks Puisi tentang Diamnya Laki-Laki.

(Catatan Penutup)
Terima kasih telah berkunjung ke website Sampah Kata.
Salam kopi pahit...

Post a Comment