Laki-Laki dan Doa yang Dipikul Puisi Tentang Diamnya Laki-Laki
Laki-Laki dan Doa yang Dipikul
Oleh : Penulis Indie
Ia tidak selalu pandai bicara,
namun hidup mengajarinya
cara menahan gemetar
di balik dada yang tampak biasa.
Sejak waktu mulai menaruh beban di pundaknya,
ia paham:
menjadi laki-laki
bukan tentang suara paling keras,
melainkan tentang kesanggupan
menjaga yang dititipkan.
Hari-harinya berjalan pelan,
di antara kerja dan kewajiban
yang jarang bertanya
apakah ia sudah cukup kuat.
Ada lelah yang disembunyikan
di lipatan baju,
ada takut yang diredam
agar tidak jatuh
ke wajah orang-orang yang ia cintai.
Ia belajar diam
bukan karena tak punya kata,
melainkan karena kata
sering kali tak menyelesaikan apa-apa.
Lebih baik menunduk sejenak,
membiarkan waktu menjelaskan,
dan membiarkan Tuhan
menjadi saksi yang paling setia.
Di pundaknya,
bukan hanya beban hidup yang bertumpu,
tetapi juga doa-doa
yang tak sempat ia ucapkan dengan lantang.
Doa untuk orang tuanya,
untuk rumah yang ingin ia jaga,
untuk masa depan
yang belum tentu ramah
namun harus ia hadapi.
Ia tahu,
tidak semua jalan akan lurus,
dan tidak semua niat
bertemu hasil yang adil.
Namun ia memilih bertahan,
sebab menyerah
bukan pilihan bagi seseorang
yang telah diberi amanah.
Pada malam-malam tertentu,
saat dunia berhenti menuntut,
ia duduk sendiri,
menghitung luka
dan menimbang iman.
Bukan untuk mengeluh,
melainkan untuk memastikan
bahwa hatinya masih sanggup
percaya.
Jika suatu hari langkahnya melambat,
itu bukan tanda ia lemah,
melainkan tanda
ia sedang menata ulang
doa-doa yang terlalu berat
untuk dipikul sendirian.
Sebab laki-laki pun manusia,
yang kadang perlu bersandar,
meski hanya sebentar
di hadapan Tuhan.
Dan bila kelak ia ditanya
apa yang membuatnya tetap bertahan,
ia tidak akan menunjuk dunia,
tidak pula menyalahkan keadaan.
Ia hanya akan menjawab pelan:
karena ada doa
yang tidak boleh jatuh,
dan ada tanggung jawab
yang harus ia bawa
hingga akhir hidupnya.
Aceh, 30 Januari 2026
(Puisi ini ditulis dengan bantuan AI berdasarkan gagasan dan arahan penulis).
Judul puisi menjadi simbol utama: laki-laki merepresentasikan peran sosial dan moral yang sering menuntut ketegaran, sementara doa yang dipikul melambangkan harapan, tanggung jawab, dan permohonan yang tidak selalu terucap, tetapi terus dibawa dalam langkah hidup sehari-hari. Doa di sini bukan sekadar ritual, melainkan kekuatan batin yang menyertai setiap keputusan dan pengorbanan.
Puisi menggambarkan keseharian tokoh dengan ritme yang tenang dan membumi bekerja, menunaikan kewajiban, dan menyembunyikan lelah agar tidak menjadi beban bagi orang lain. Diam dipilih sebagai sikap dewasa, bukan karena ketiadaan suara, tetapi karena kesadaran bahwa tidak semua masalah membutuhkan penjelasan panjang.
Dimensi spiritual menjadi pusat kekuatan puisi ini. Dialog batin dengan Tuhan hadir sebagai ruang paling jujur bagi tokoh aku untuk menata iman, menimbang luka, dan menguatkan kembali kepercayaan ketika dunia terasa tidak adil. Tuhan digambarkan sebagai saksi setia, tempat bersandar yang tidak menghakimi.
Puisi ini juga menegaskan bahwa kelelahan dan keraguan bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari kemanusiaan. Laki-laki dalam puisi tetap memilih bertahan, bukan karena tidak ingin menyerah, tetapi karena ada doa dan tanggung jawab yang tidak boleh ia biarkan jatuh.
Secara keseluruhan, puisi ini adalah refleksi tentang keteguhan yang sunyi tentang bagaimana seorang laki-laki menjaga doa, iman, dan amanah dalam diam, hingga akhir hidupnya. Puisi ini mengajak pembaca untuk melihat kekuatan bukan dari kerasnya suara, melainkan dari kesanggupan memikul harapan tanpa kehilangan kejujuran hati.

Post a Comment