Pundak yang Belajar Diam Puisi Tentang Laki-Laki
Pundak yang Belajar Diam
Oleh : Muraz Riksi
Aku belajar dewasa
bukan dari kemenangan,
melainkan dari kekalahan
yang tak sempat kuceritakan pada siapa pun.
Dari pundak yang perlahan menebal,
bukan karena kuat,
tetapi karena terlalu sering dipakai
menopang hal-hal yang tak memilihku lebih dulu.
Hidup tidak selalu bertanya
apakah aku sanggup.
Ia datang dengan perannya sendiri,
lalu berkata pelan:
“ini tanggung jawabmu.”
Tanpa aba-aba,
tanpa jeda,
tanpa ruang untuk menolak.
Aku pernah ingin menjelaskan,
ingin membela diri,
ingin didengar.
Namun waktu mengajariku satu hal:
tidak semua penjelasan
akan dimengerti,
dan tidak semua kebenaran
perlu disuarakan.
Maka aku memilih diam.
Bukan karena kalah,
tetapi karena lelah
mengulang luka
pada telinga yang tak mau belajar mendengar.
Di pundak ini,
ada banyak nama yang kutitipkan:
keluarga,
janji,
masa depan,
dan doa-doa yang tak berani kusebut keras-keras.
Semuanya ingin selamat,
sementara aku
hanya ingin tetap kuat
tanpa harus menjadi kasar.
Aku melihat dunia
terlalu cepat menilai.
Mereka menimbang hasil
tanpa bertanya proses.
Mereka mencatat salah
tanpa peduli niat.
Dan aku belajar menerima
bahwa menjadi benar
tidak selalu berarti dibenarkan.
Di malam yang paling sunyi,
aku berbicara pada Tuhan
dengan bahasa yang paling jujur.
Tentang takut yang kusembunyikan,
tentang letih yang kupeluk sendiri,
tentang iman
yang kadang tertatih
namun tak pernah benar-benar pergi.
Jika esok aku masih berdiri,
itu bukan karena aku paling kuat,
melainkan karena aku menolak menyerah
pada putus asa.
Sebab hidup,
betapa pun beratnya,
tetap harus dijalani
dengan tanggung jawab
dan sedikit keberanian untuk bertahan.
Dan jika suatu hari pundak ini runtuh,
biarlah ia jatuh
di hadapan Tuhan,
bukan di hadapan dunia.
Sebab diam yang kupelajari
bukan untuk menghindar,
melainkan untuk menjaga
agar aku tetap menjadi manusia
yang tahu caranya bertanggung jawab
tanpa kehilangan nurani.
Aceh, 29 Januari 2026
Judul puisi menjadi simbol utama: pundak melambangkan beban hidup, amanah, dan tanggung jawab; sementara diam bukan dimaknai sebagai kelemahan, tetapi sebagai sikap sadar sebuah pilihan untuk menahan diri, menjaga nurani, dan tidak memperpanjang konflik. Diam dalam puisi ini adalah hasil belajar, bukan pelarian.
Bagian awal puisi menekankan bahwa kedewasaan tidak datang dari keberhasilan, melainkan dari kekalahan yang disimpan sendiri. Tokoh aku dalam puisi digambarkan sebagai sosok yang sering menopang banyak hal keluarga, janji, masa depan tanpa banyak ruang untuk mengeluh atau menjelaskan diri. Hal ini mencerminkan realitas banyak orang yang harus kuat dalam sunyi.
Puisi ini juga mengkritik cara dunia menilai manusia secara dangkal: hasil lebih penting daripada proses, kesalahan lebih mudah dicatat daripada niat baik. Di tengah penilaian yang terburu-buru itu, tokoh aku memilih menerima dengan lapang, menyadari bahwa kebenaran tidak selalu diiringi pengakuan.
Dimensi spiritual hadir sebagai tempat kembali. Dialog batin dengan Tuhan menjadi ruang paling jujur untuk mengakui rasa takut, lelah, dan iman yang sempat goyah namun tidak pernah benar-benar hilang. Tuhan digambarkan bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai sandaran terakhir ketika dunia tidak memberi ruang.
Pada akhirnya, puisi ini menegaskan bahwa kekuatan sejati bukan tentang terlihat tangguh di hadapan manusia, melainkan tentang kesediaan bertanggung jawab tanpa kehilangan nurani. Puisi ini menjadi refleksi bagi mereka yang memilih bertahan dalam diam, memikul beban dengan kesadaran, dan tetap menjaga kemanusiaannya di tengah kerasnya kehidupan.

Post a Comment