Pundak yang Tidak Pernah Diturunkan Puisi Sedih Tentang Diamnya Laki-Laki

Table of Contents
Pundak yang Tidak Pernah Diturunkan Puisi Sedih Tentang Diamnya Laki-Laki

“Pundak yang Tidak Pernah Diturunkan”
Oleh : Muraz Riksi 

Di mana seorang laki-laki berdiri,
ia tak pernah benar-benar sendirian.
Ada beban yang ikut tegak bersamanya, 
diam, tapi beratnya lebih tua dari usia.

Ia belajar berjalan bukan untuk pergi,
melainkan untuk tetap tinggal di tengah badai yang tak memilih arah,
di antara tuntutan yang tak pernah bertanya: “Apakah kau sanggup?”

Sejak pertama kali namanya disebut dewasa, hidup tak lagi sekadar miliknya.
Setiap langkah adalah janji, setiap diam adalah sumpah yang tak sempat diucapkan.
Ia menanggung bukan hanya yang ia perbuat, tapi juga yang dititipkan padanya.

Kesalahan orang lain bisa jatuh ke dadanya, dan ia belajar menerimanya tanpa suara, tanpa pembelaan.
Karena laki-laki, sering kali tak diberi ruang untuk lelah.
Tangisnya harus tahu waktu, lukanya harus pandai bersembunyi, dan kecewanya cukup disimpan di sudut malam yang tak bernama.

Ia tahu, di dunia ini, disalahkan adalah bagian dari tanggung jawab.
Dan membenarkan diri sendiri bukan selalu pilihan yang bijak.
Maka ia memilih diam, memilih memikul, meski punggungnya retak perlahan oleh ekspektasi yang terus menumpuk
seperti doa-doa yang tak pernah dijawab.

Namun tanggung jawab tak berhenti di sini.
Ia tahu, apa yang ia bawa hari ini akan ikut berdiri bersamanya di kehidupan selanjutnya.
Tak ada pengalihan, tak ada alasan yang bisa diselipkan.

Semua yang ia lakukan atau yang ia abaikan akan berdiri sebagai saksi di hadapan waktu yang tak bisa disuap.
Ia gemetar, bukan karena takut hidup,
melainkan karena sadar bahwa setiap pilihan memiliki akhir yang tak bisa dihindari.

Di pundaknya, tanggung jawab itu tetap tinggal.
Tak runtuh oleh usia, tak ringan oleh pujian,
tak luruh oleh air mata yang tak sempat jatuh.
Dan jika suatu hari ia terlihat tegar, jangan salah mengira.
Itu bukan karena bebannya ringan, melainkan karena ia sudah terlalu lama berdiri bersama beban itu 
hingga sakit pun terasa seperti kewajiban.

Di mana seorang laki-laki berdiri, di sanalah tanggung jawab menetap.
Bukan sebagai kehormatan semata,
melainkan sebagai ujian yang akan ia bawa hingga dunia ini selesai menyebut namanya.
Aceh, 28 Januari 2026

*** Puisi “Pundak yang Tidak Pernah Diturunkan” menggambarkan potret batin seorang laki-laki yang hidup dalam lingkaran tanggung jawab yang tak pernah benar-benar berakhir. Sejak ia “berdiri” dalam kehidupan yang dimaknai sebagai fase kedewasaan, ia tidak lagi berjalan hanya untuk dirinya sendiri. Setiap langkah, keputusan, dan bahkan diamnya memiliki konsekuensi, bukan hanya di dunia, tetapi juga di kehidupan selanjutnya.

Puisi ini menekankan bahwa tanggung jawab laki-laki tidak selalu lahir dari kesalahan yang ia buat sendiri. Ada beban yang datang dari kepercayaan, harapan, dan tuntutan orang lain yang secara perlahan diletakkan di pundaknya. Dalam kondisi tersebut, disalahkan menjadi bagian dari perjalanan, sementara membela diri sering kali dianggap bukan pilihan yang pantas. Karena itu, tokoh laki-laki dalam puisi lebih memilih diam dan memikul, meski batinnya retak perlahan.

Kesedihan dalam puisi ini tidak ditampilkan lewat tangisan yang meledak, melainkan melalui kelelahan yang dipendam. Laki-laki digambarkan sebagai sosok yang jarang diberi ruang untuk lemah. Lukanya harus tersembunyi, air matanya harus tahu waktu, dan rasa gagal harus disimpan sendiri di ruang sunyi yang tak terlihat orang lain. Di sinilah letak kesedihan terdalam puisi ini, pada ketegaran yang terpaksa dipelajari.

Lebih jauh, puisi ini juga membawa pembaca pada kesadaran spiritual. Tanggung jawab tidak berhenti pada kehidupan dunia, tetapi akan terus mengikuti hingga kehidupan setelah mati. Setiap pilihan, kelalaian, maupun pengorbanan akan menjadi saksi yang tak bisa dihindari. Tidak ada alasan yang bisa disembunyikan, tidak ada beban yang bisa dialihkan.

Judul “Pundak yang Tidak Pernah Diturunkan” menjadi simbol utama puisi ini. Ia melambangkan tanggung jawab yang melekat seumur hidup, tidak runtuh oleh waktu, tidak ringan oleh pujian, dan tidak luruh oleh kesedihan. Ketegaran tokoh laki-laki bukan tanda kekuatan mutlak, melainkan hasil dari kebiasaan memikul beban terlalu lama hingga rasa sakit terasa seperti kewajiban.

Secara keseluruhan, puisi ini adalah refleksi sunyi tentang makna menjadi laki-laki: tentang tanggung jawab, kesalahan, keheningan, dan kesadaran bahwa hidup bukan hanya soal bertahan hari ini, tetapi juga tentang apa yang kelak harus dipertanggungjawabkan.


***
Demikian teks Puisi tentang Diamnya Laki-Laki.

(Catatan Penutup)
Terima kasih telah berkunjung ke website Sampah Kata.
Salam kopi pahit...

Post a Comment