Secangkir Kopi di Bawah Hujan yang Tak Bertanya Puisi Tentang Kopi dan Hujan

Table of Contents
Secangkir Kopi di Bawah Hujan yang Tak Bertanya Puisi Tentang Kopi dan Hujan

Secangkir Kopi di Bawah Hujan yang Tak Bertanya

Di bawah atap senja yang bocor oleh rindu,
aku duduk sendiri
bersama secangkir kopi
yang mengepul pelan
seperti doa yang lupa diaminkan.

Hujan turun tanpa suara tanya,
ia tidak peduli siapa yang menunggu
dan siapa yang ditinggalkan.
Ia hanya jatuh
setia pada gravitasi kenangan.

Kopi ini pahit,
seperti kata-kata yang tak jadi kau ucapkan.
Kuhirup aromanya,
dan waktu mendadak melambat,
mengulang adegan-adegan kecil
yang dulu kita sebut kebahagiaan.

Di luar jendela,
hujan menulis namamu
di kaca yang berembun,
lalu menghapusnya kembali
seakan mengajarkanku
tentang ikhlas yang paling sulit.

Aku menyesap kopi perlahan,
membiarkan panasnya
melukai lidah dan perasaan.
Sebab ada luka
yang hanya bisa sembuh
dengan cara diingat.

Hujan tetap turun,
tak pernah bertanya
mengapa mataku basah,
mengapa dadaku sesak,
atau mengapa kursi di depanku
selalu kosong.

Ia hanya menemani
seperti kopi ini,
yang tak menjanjikan manis,
namun jujur dalam pahitnya.

Di antara rintik dan uap,
aku belajar satu hal:
bahwa kehilangan
tak selalu butuh jawaban,
cukup diterima
seperti hujan yang datang
dan kopi yang habis perlahan.

Ketika cangkir ini kosong,
dan hujan mulai reda,
aku pun berdiri
dengan hati yang masih retak
namun utuh.

Sebab secangkir kopi
di bawah hujan yang tak bertanya
telah mengajarkanku:
tidak semua perpisahan
harus dimengerti
beberapa cukup dikenang,
lalu dilepaskan.

*** Puisi “Secangkir Kopi di Bawah Hujan yang Tak Bertanya” menggambarkan suasana sunyi seorang aku lirik yang sedang berhadapan dengan kenangan dan kehilangan. Kopi dan hujan hadir sebagai simbol utama dua hal sederhana, namun sarat makna. Kopi melambangkan kepahitan hidup dan kejujuran perasaan, sementara hujan menjadi representasi waktu dan keadaan yang datang tanpa permisi serta tanpa tuntutan jawaban.

Hujan dalam puisi ini tidak bertanya, karena kehidupan sering kali tidak memberi ruang untuk penjelasan. Ia jatuh begitu saja, sebagaimana perpisahan dan kehilangan terjadi dalam hidup manusia. Sementara itu, secangkir kopi menjadi teman setia dalam kesendirian, tidak menawarkan manis, tetapi kehangatan yang jujur. Dari kopi, aku lirik belajar menerima rasa pahit tanpa harus menolaknya.

Kehadiran kenangan diwujudkan melalui detail kecil: kursi kosong, jendela berembun, dan aroma kopi. Semua itu memperkuat nuansa rindu dan ketidaklengkapan. Namun puisi ini tidak berhenti pada kesedihan semata. Di bagian akhir, terdapat proses penerimaan bahwa tidak semua kehilangan perlu dimengerti, sebagian cukup diterima dan dilepaskan.

Secara keseluruhan, puisi ini berbicara tentang kedewasaan emosional: belajar duduk bersama luka, menikmati pahitnya kenyataan, dan tetap berdiri meski hati retak. Hujan reda, kopi habis, tetapi pelajaran hidup yang tertinggal justru menjadi inti dari perjalanan batin.

Post a Comment