Altar Sunyi di Punggung Seorang Laki-Laki Puisi Tentang Diamnya Laki-Laki
Altar Sunyi di Punggung Seorang Laki-Laki
Oleh Penulis Indie
Di punggungnya,
hidup mendirikan altar
tanpa lilin,
tanpa pujian,
hanya sunyi
dan tanggung jawab
yang terus menyala.
Ia berjalan pelan,
menyusuri hari
dengan langkah yang tak selalu yakin.
Di balik dadanya,
ada doa-doa
yang tak pernah sempat menjadi suara,
hanya getar halus
yang ia titipkan
pada setiap tarikan napas.
Laki-laki itu belajar kuat
dengan cara yang tidak ramai.
Ia menahan runtuh
agar rumah tetap berdiri.
Ia menyimpan takut
agar orang-orang yang ia jaga
masih berani berharap.
Di dunia yang gemar menunjuk,
ia memilih memikul.
Punggungnya menjadi tempat
bertemunya letih dan ikhlas.
Di sanalah amanah diletakkan,
di sanalah kesalahan orang lain
kadang ikut dibebankan.
Ia tidak selalu mengerti
mengapa harus ia,
namun ia tetap berjalan
sebab berhenti
bukan pilihan yang ia kenal.
Malam adalah satu-satunya saksi
ketika altar itu benar-benar hidup.
Di sepertiga yang paling sunyi,
ia berdiri tanpa topeng,
tanpa peran,
hanya seorang hamba
yang ingin kuat
tanpa kehilangan iman.
Jika esok ia kembali dituntut
lebih dari yang sanggup ia beri,
ia hanya menunduk sebentar,
menata napas,
lalu melangkah lagi.
Sebab ia tahu,
altar itu tidak boleh roboh,
karena di sanalah
harapan banyak orang
dititipkan.
Dan bila suatu hari punggungnya retak,
jangan tanyakan mengapa ia diam.
Mungkin ia sedang berdoa
dengan seluruh tubuhnya,
memohon agar yang ia jaga
tidak ikut runtuh
bersama dirinya.
Biarlah dunia
tidak pernah tahu
seberapa berat altar itu.
Cukup Tuhan yang mengerti
bahwa di punggung seorang laki-laki,
sunyi bukan kehampaan,
melainkan tempat sujud
yang paling jujur.
Aceh, 02 Februari 2026
(Puisi ini ditulis dengan bantuan AI berdasarkan gagasan dan arahan penulis).

Post a Comment