Antara Imsak dan Magrib, Aku Belajar Menahan Puisi Tentang Bulan Suci Ramadhan
Antara Imsak dan Magrib, Aku Belajar Menahan
Oleh Penulis Indie
Antara imsak dan magrib,
aku belajar menahan sesuatu
yang selama ini tidak pernah benar-benar ingin kutahan.
Bukan hanya lapar,
tetapi juga keinginan untuk selalu merasa benar.
Bukan hanya dahaga,
tetapi juga keinginan untuk selalu didengar.
Subuh datang dengan sunyi yang bersih.
Langit masih setengah gelap,
dan dunia belum sempat mengingatkan siapa aku kemarin.
Di waktu itu,
aku merasa seperti seseorang yang baru saja dilahirkan kembali
tanpa nama, tanpa kesalahan,
hanya seorang hamba
yang berdiri dengan napas yang masih Tuhan izinkan.
Namun waktu berjalan,
dan aku kembali menjadi diriku yang biasa.
Perut mulai berbicara,
tenggorokan mulai mengeluh,
dan dunia kembali menawarkan kebiasaan lamaku
untuk menyerah pada hal-hal kecil.
Di situlah aku mulai mengerti:
menahan bukan tentang tubuh,
tetapi tentang hati yang sering tergesa.
Aku menahan kata-kata
yang hampir saja melukai tanpa sengaja.
Aku menahan amarah
yang selama ini terlalu mudah kubela.
Aku menahan keinginan
untuk menjadi lebih dari orang lain,
dan mulai belajar
untuk cukup menjadi seseorang di hadapan Tuhan.
Lapar mengajariku cara melihat dengan jujur.
Bahwa aku tidak sekuat yang selama ini kubanggakan.
Bahwa aku hanyalah manusia
yang bisa goyah oleh sesuatu yang sederhana.
Di siang yang panjang,
aku berjalan seperti seseorang yang membawa cermin di dalam dada.
Setiap langkah memperlihatkan sesuatu:
kesabaran yang masih setengah utuh,
niat yang kadang retak,
dan doa-doa yang belum sepenuhnya percaya diri.
Aku tidak melawan lapar.
Aku membiarkannya berbicara.
Dan dari diamnya,
aku mendengar sesuatu yang lama hilang
kerendahan hati.
Menjelang sore,
waktu terasa lebih lambat dari biasanya.
Bukan karena dunia berhenti,
tetapi karena aku mulai benar-benar hadir di dalamnya.
Aku memperhatikan hal-hal kecil
yang selama ini kulewati tanpa rasa.
Angin yang menyentuh wajahku
terasa seperti pengingat bahwa aku masih dijaga.
Langit yang berubah warna
terlihat seperti janji
bahwa setiap penantian memiliki akhir.
Dan ketika azan magrib akhirnya tiba,
aku tidak hanya merasa lega.
Aku merasa pulang.
Segelas air di tanganku
bukan lagi sekadar pelepas dahaga,
tetapi pelajaran tentang syukur
yang selama ini terlalu sering kulupakan.
Di antara imsak dan magrib,
aku tidak hanya menahan lapar.
Aku menahan diriku sendiri
dari kesombongan yang tidak kusadari,
dari kelalaian yang terlalu lama kutinggali,
dari jarak yang perlahan menjauhkanku dari Tuhan.
Dan di penghujung hari itu,
aku mengerti sesuatu yang sederhana:
bahwa menahan bukanlah kehilangan,
melainkan cara Tuhan mengajarkanku
bagaimana cara kembali memiliki hati
yang tidak lagi dikuasai oleh diriku sendiri.
Aceh, 12 Februari 2026
(Puisi ini ditulis dengan bantuan AI berdasarkan gagasan dan arahan penulis).
Sejak awal, puisi ini menempatkan waktu antara imsak dan magrib sebagai simbol perjalanan kesadaran. Imsak melambangkan permulaan yang bersih, sebuah kesempatan baru di mana manusia kembali berdiri sebagai hamba yang rapuh dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Dalam suasana subuh yang sunyi, tokoh “aku” merasakan kemurnian seolah terbebas dari beban masa lalu. Namun, seiring waktu berjalan, ia kembali berhadapan dengan dirinya yang sebenarnya, lengkap dengan kelemahan dan kebiasaan lamanya.
Lapar dalam puisi ini berfungsi sebagai sarana refleksi. Ia tidak digambarkan sebagai penderitaan, melainkan sebagai pengingat akan keterbatasan manusia. Melalui lapar, tokoh “aku” menyadari bahwa kekuatan yang selama ini ia banggakan sebenarnya rapuh. Lapar membuka ruang kejujuran, memperlihatkan sisi-sisi diri yang selama ini tersembunyi oleh kenyamanan.
Puisi ini juga menekankan bahwa menahan bukan hanya soal fisik, tetapi juga soal batin. Tokoh “aku” belajar menahan amarah, menahan kata-kata yang bisa melukai, dan menahan keinginan untuk merasa lebih unggul dari orang lain. Ini menunjukkan bahwa puasa adalah latihan pengendalian diri secara menyeluruh, bukan sekadar ritual lahiriah.
Menjelang magrib, suasana berubah menjadi lebih reflektif. Penantian berbuka menjadi simbol harapan dan kesabaran. Ketika azan magrib akhirnya tiba, rasa lega yang muncul bukan hanya karena dahaga terlepaskan, tetapi karena adanya kesadaran baru. Segelas air yang sederhana menjadi lambang syukur dan pengingat bahwa nikmat Tuhan sering kali baru terasa ketika manusia belajar menahan diri.
Secara keseluruhan, puisi ini menyampaikan pesan bahwa puasa adalah proses pemulihan hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan dengan Tuhan. Menahan dalam puisi ini bukan berarti kehilangan, tetapi justru cara untuk menemukan kembali makna, kerendahan hati, dan kesadaran spiritual.
Puisi ini mengajak pembaca memahami bahwa di antara imsak dan magrib, manusia tidak hanya belajar menahan lapar, tetapi juga belajar menjadi pribadi yang lebih jujur, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Tuhan.

Post a Comment