Bulan yang Tidak Pernah Menuntut, Hanya Membersihkan Puisi Tentang Bulan Suci Ramadhan
Bulan yang Tidak Pernah Menuntut, Hanya Membersihkan
Oleh Penulis Indie
Bulan itu datang tanpa membawa daftar kesalahan.
Ia tidak berdiri di pintu dengan wajah penghakiman,
tidak pula menagih janji-janji yang pernah kita ucapkan
sambil tergesa di antara urusan dunia.
Ia hanya datang
pelan seperti embun yang jatuh di ujung subuh,
menyentuh tanah tanpa suara,
mengajari kita bahwa yang lembut
sering kali lebih mampu mengubah.
Aku menyambutnya dengan tangan yang belum sepenuhnya bersih.
Masih ada sisa iri di sela kuku,
masih ada sombong yang mengering di lipatan hati,
dan doa-doa yang pernah kuucapkan
hanya karena ingin terlihat baik.
Namun bulan itu tidak menuntut penjelasan.
Ia tidak bertanya mengapa aku jauh,
mengapa sujudku lebih sering tergantikan
oleh kesibukan yang kubanggakan sendiri.
Ia hanya membentangkan malamnya
panjang, sunyi,
seolah berkata,
“Jika ingin kembali, kembalilah.
Aku tidak memaksa.”
Di siang hari, ia menghadirkan lapar
bukan sebagai hukuman,
melainkan sebagai cermin.
Perut yang kosong mengajakku melihat
betapa sering aku merasa cukup
tanpa pernah benar-benar bersyukur.
Lapar itu tidak menampar,
ia hanya mengetuk perlahan.
Dan di setiap ketukan,
aku menemukan wajahku sendiri
yang ternyata rapuh,
yang ternyata mudah goyah
hanya karena dunia sedikit menggoda.
Bulan ini tidak pernah memerintah dengan keras.
Ia tidak berkata, “Berubahlah sekarang!”
Ia hanya menyediakan ruang
di mana aku bisa menunduk
tanpa merasa dipermalukan.
Di sepertiga malam,
ketika dunia terlelap
dan segala topeng ikut tertidur,
aku duduk sendirian
dengan suara napasku sendiri.
Tak ada sorot lampu,
tak ada tepuk tangan,
tak ada pujian.
Hanya ada aku
dan Tuhan
yang tak pernah lelah menunggu.
Air mata jatuh bukan karena takut,
melainkan karena sadar.
Sadar bahwa selama ini
aku terlalu sibuk membela diri
hingga lupa meminta maaf.
Bulan ini tidak menghakimi.
Ia hanya membersihkan
seperti hujan yang turun
tanpa memilih atap mana yang layak dibasahi.
Ia menyentuh yang kaya dan yang miskin,
yang taat dan yang lalai,
yang kuat dan yang lelah.
Semua diberi kesempatan yang sama
untuk menjadi lebih jujur.
Aku belajar bahwa pembersihan
tidak selalu terasa menyenangkan.
Kadang ia menggosok luka lama,
membuka kenangan yang ingin dilupakan,
memaksa kita menatap kesalahan
yang selama ini kita sembunyikan
di balik alasan.
Namun setelah itu,
ada lega yang tak bisa dijelaskan.
Seperti dada yang lapang
setelah lama sesak oleh kesombongan.
Bulan ini tidak pernah menuntut kesempurnaan.
Ia hanya meminta kejujuran.
Datanglah dengan hati yang retak, katanya,
aku tidak butuh yang utuh
aku hanya ingin yang mau diperbaiki.
Dan aku pun perlahan mengerti:
yang membersihkan bukanlah waktu,
melainkan kesediaan untuk mengaku salah.
Yang mengubah bukanlah rasa takut,
melainkan rasa rindu.
Bulan ini menanam rindu itu
di tempat yang paling dalam
di antara doa-doa yang sempat hilang arah,
di sela sujud yang pernah tergesa.
Ketika ia pergi nanti,
ia tidak akan membawa apa-apa
selain jejak air mata yang telah jatuh
dan hati yang sempat disentuh cahaya.
Ia tidak menuntut agar kita menjadi malaikat.
Ia hanya mengajari kita
bagaimana menjadi manusia
yang lebih rendah hati.
Dan jika suatu hari aku kembali kotor,
aku tahu ke mana harus pulang.
Sebab bulan itu selalu datang
tanpa amarah,
tanpa tuntutan,
hanya dengan satu tujuan:
Membersihkan
yang selama ini terlalu lama
kubiarakan berdebu.
Aceh, 12 Februari 2026
(Puisi ini ditulis dengan bantuan AI berdasarkan gagasan dan arahan penulis).
Sejak awal, Ramadhan dipersonifikasikan sebagai sosok yang datang tanpa membawa daftar kesalahan. Ia tidak mengadili masa lalu, tidak menagih kekurangan ibadah, dan tidak memaksa perubahan secara instan. Gambaran ini menekankan bahwa transformasi spiritual tidak lahir dari tekanan, tetapi dari kesadaran yang tumbuh perlahan.
Lapar dalam puisi tersebut menjadi simbol pembersihan batin. Ia bukan hukuman, melainkan cermin yang memperlihatkan kerentanan manusia. Ketika perut kosong, ego melemah. Kesombongan yang sebelumnya tersembunyi mulai terlihat. Di sinilah proses “membersihkan” terjadi melalui pengalaman sederhana yang mengembalikan manusia pada rasa cukup dan syukur.
Bagian sepertiga malam memperdalam makna kontemplasi. Dalam sunyi, tokoh “aku” tidak lagi bersembunyi di balik citra atau penilaian orang lain. Ia berhadapan langsung dengan dirinya dan dengan Tuhan. Air mata yang jatuh bukan karena rasa takut dihukum, tetapi karena kesadaran dan rindu untuk kembali. Ini menunjukkan bahwa pembersihan sejati bersumber dari kejujuran hati.
Puisi ini juga menegaskan bahwa Ramadhan tidak menuntut kesempurnaan. Yang diminta hanyalah kesediaan untuk diperbaiki. Kalimat “datanglah dengan hati yang retak” menjadi simbol bahwa manusia tidak perlu menunggu sempurna untuk mendekat kepada Tuhan. Justru dalam keretakan itulah proses penyembuhan dimulai.
Secara keseluruhan, puisi ini menyampaikan pesan bahwa Ramadhan adalah bulan rahmat bulan yang bekerja dalam diam, menyentuh dengan lembut, dan membersihkan tanpa mempermalukan. Ia mengajarkan bahwa perubahan tidak selalu datang melalui suara keras, tetapi melalui keheningan yang jujur.
Puisi ini mengajak pembaca memahami bahwa Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan kesempatan untuk merendahkan hati, menyadari keterbatasan, dan pulang kepada Tuhan dengan langkah yang lebih bersih.

Post a Comment