Di Bulan Ini, Aku Belajar Mendengar Puisi Tentang Bulan Suci Ramadhan Karya Muraz Riksi

Table of Contents
Di Bulan Ini, Aku Belajar Mendengar Puisi Tentang Bulan Suci Ramadhan Karya Muraz Riksi

Di Bulan Ini, Aku Belajar Mendengar
Oleh Muraz Riksi

Apakah aku sudah terlalu lama hilang arah? 
Mengapa tak ada rindu, secercah ingatan tentang keindahan bulan suci Ramadhan 
Apa mungkin aku sudah terlalu berlumpur dengan dosa sehingga tak ada rasa penyesalan 
Aku sedang mencoba memahami 
Di bulan ini, aku belajar diam agar doa terdengar.

Aku tidak tahu sejak kapan arah hidupku menjadi begitu kabur,
Langkah-langkahku tetap berjalan, namun hatiku sering tertinggal, keras tak ada rasa.

Ramadhan datang lagi tanpa dentuman rindu,
tanpa gegap gempita harapan,
hanya hadir seperti seseorang yang tetap menyapaku
meski aku jarang menoleh.

Aku bertanya pada diriku sendiri,
ke mana perginya rasa haru yang dulu mudah jatuh hanya karena adzan magrib,
ke mana kenangan tentang malam yang penuh doa
dan dada yang ringan oleh harap.

Mungkin aku terlalu sibuk mengumpulkan alasan,
hingga lupa bagaimana caranya menyesal tanpa pembelaan.

Dosa-dosa tidak lagi terasa berat,
bukan karena hilang tetapi karena aku terlalu sering membawanya
tanpa sempat menurunkannya di hadapan Tuhan.

Di bulan ini, aku tidak langsung meminta ampun
aku hanya mencoba diam, membiarkan hatiku mengeja ulang
apa yang selama ini kusembunyikan.

Diam ternyata tidak kosong,
ia penuh dengan suara yang selama ini kuabaikan
rasa lelah berpura-pura baik,
rasa takut menjadi jujur,
dan rindu yang malu mengaku ingin pulang.

Aku belajar bahwa doa tidak selalu lahir dari kata-kata yang panjang,
kadang ia tumbuh dari keberanian untuk berhenti dan mengakui tentang
aku yang tidak baik-baik saja.

Ramadhan tidak memarahiku, ia hanya duduk bersamaku,
menunggu aku selesai berdialog dengan diriku sendiri.

Dan di situlah aku mengerti,
barangkali aku belum kehilangan arah,
aku hanya terlalu bising hingga lupa
bagaimana caranya mendengar.

Di bulan ini, aku belajar diam
bukan agar terlihat baik,
melainkan agar doa yang paling jujur akhirnya terdengar.
Aceh, 02 Februari 2026

*** Puisi “Di Bulan Ini, Aku Belajar Mendengar” menggambarkan pergulatan batin seorang manusia yang merasa kehilangan arah spiritualnya ketika Ramadhan kembali datang. Puisi ini tidak dimulai dengan euforia atau kerinduan yang biasa dilekatkan pada bulan suci, melainkan dengan kejujuran yang sunyi: pengakuan bahwa rasa haru, rindu, dan kesadaran spiritual itu pernah ada, namun kini terasa menjauh.

Tokoh aku dalam puisi ini berada pada fase mempertanyakan dirinya sendiri. Ia tidak langsung menyalahkan waktu atau keadaan, melainkan berani menengok ke dalam, mempertanyakan apakah dirinya telah terlalu sibuk, terlalu terbiasa dengan dosa, atau terlalu lama hidup tanpa jeda untuk benar-benar merasa. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak menuntut jawaban cepat, melainkan membuka ruang perenungan yang dalam.

Diam menjadi inti pengalaman spiritual dalam puisi ini. Diam bukan bentuk pasrah, melainkan usaha sadar untuk meredam kebisingan batin yang selama ini menutupi suara hati dan doa. Dalam keheningan itu, tokoh aku mulai mendengar kelelahan, ketakutan, dan kerinduan yang selama ini disembunyikan di balik kepura-puraan baik-baik saja.

Ramadhan digambarkan sebagai kehadiran yang penuh kesabaran dan kasih. Ia tidak datang untuk menghakimi atau memaksa perubahan, tetapi menemani proses pulang dengan tenang. Bulan suci ini seolah menjadi saksi dialog batin antara manusia dan dirinya sendiri memberi waktu agar kesadaran tumbuh secara alami.

Puisi ini juga menegaskan bahwa doa tidak selalu lahir dari rangkaian kata yang indah dan panjang. Doa yang paling jujur justru muncul dari pengakuan atas keterbatasan diri, dari keberanian mengatakan bahwa hati sedang lelah dan arah hidup terasa kabur.

Pada akhirnya, puisi ini menyampaikan bahwa kehilangan arah bukan selalu tanda kegagalan iman, melainkan bisa jadi akibat terlalu banyak suara yang memenuhi hidup. Dengan belajar diam, tokoh aku menemukan kembali jalan untuk mendengar, mendengar dirinya sendiri, mendengar kerinduannya, dan mendengar doa yang selama ini tertahan. Puisi ini mengajak pembaca melihat Ramadhan sebagai ruang mendengar, bukan sekadar waktu untuk berbicara.


***
Demikian teks Puisi Tentang Bulan Suci Ramdhan.

(Catatan Penutup)
Terima kasih telah berkunjung ke website Sampah Kata.
Salam kopi pahit...

Post a Comment