Di Bulan Ini, Doa Tidak Pernah Berteriak Puisi Tentang Bulan Suci Ramadhan
Di Bulan Ini, Doa Tidak Pernah Berteriak
Oleh Penulis Indie
Di bulan ini,
doa tidak pernah berteriak,
ia berjalan pelan
menyusuri dada
yang lama dipenuhi suara dunia.
Tuhan tidak meminta suaraku meninggi,
Ia hanya ingin aku jujur,
tentang lelah yang kupendam,
tentang iman yang sering tertinggal
di antara kesibukan dan alasan.
Ramadhan mengajariku
bahwa sunyi bukan kekosongan,
melainkan ruang
agar harap tidak saling bertabrakan.
Aku belajar menunduk,
bukan karena kalah,
tetapi karena sadar
aku terlalu sering merasa paling tahu.
Di siang hari,
lapar menjadi bahasa yang sederhana,
mengingatkanku
bahwa keinginan tidak selalu harus dituruti.
Di sore yang hampir magrib,
waktu seperti berhenti sejenak,
dan aku mengerti,
menunggu pun bagian dari iman.
Malam-malamnya
datang dengan sajadah yang setia,
menampung doa
yang tak sanggup kusebutkan keras-keras.
Aku duduk sebagai manusia biasa,
tanpa dalih,
tanpa kepura-puraan,
hanya membawa rindu
yang lama tak sempat kudoakan.
Di bulan ini,
Tuhan tidak mengukurku
dari banyaknya kata,
melainkan dari seberapa dalam
aku berani diam.
Doa tidak perlu berteriak
untuk didengar,
sebab Tuhan paling dekat
saat aku berhenti merasa paling benar
dan mulai belajar pulang.
Dan jika kelak bulan ini berlalu,
aku berharap suaranya tinggal,
agar aku tahu,
bahwa doa terbaik
sering lahir dari hati
yang memilih tenang.
Aceh, 02 Februari 2026
(Puisi ini ditulis dengan bantuan AI berdasarkan gagasan dan arahan penulis).
Doa dalam puisi ini tidak hadir sebagai rangkaian kata yang keras, melainkan sebagai perjalanan sunyi di dalam dada. Diam dipilih bukan karena ketidakmampuan berbicara, tetapi karena di dalam keheningan itulah manusia berani jujur pada lelah, rindu, dan iman yang sering tertinggal oleh kesibukan dunia. Ramadhan digambarkan sebagai waktu yang memperlambat ritme hidup, memberi ruang bagi batin untuk mendengar kembali suara yang esensial.
Lapar dan menunggu menjadi simbol latihan kesabaran dan kepasrahan. Puisi ini menunjukkan bahwa iman tidak hanya diuji saat meminta, tetapi juga saat menahan dan menunggu. Sore menjelang magrib menjadi metafora tentang jeda momen ketika manusia belajar bahwa tidak semua hal harus segera dimiliki atau dijawab.
Pada bagian malam, sajadah berfungsi sebagai ruang kejujuran tertinggi. Tokoh aku hadir tanpa topeng, tanpa pembenaran diri, hanya sebagai manusia yang membawa rindu dan harap yang lama tertunda. Doa-doa yang tak diucapkan dengan suara keras justru menjadi lebih tulus dan intim.
Puisi ini juga menegaskan bahwa kedekatan dengan Tuhan tidak diukur dari banyaknya kata atau lantangnya suara, melainkan dari kedalaman kesadaran dan kerendahan hati. Menunduk dalam puisi ini bukan simbol kekalahan, tetapi tanda pengertian bahwa manusia memiliki keterbatasan dan tidak selalu benar.
Pada akhirnya, puisi ini menyampaikan pesan bahwa nilai Ramadhan dan doa seharusnya tidak berakhir bersama berlalunya waktu. Ketika bulan suci selesai, ketenangan, kesadaran, dan cara berdoa yang tenang diharapkan tetap tinggal. Doa yang tidak berteriak menjadi simbol kedewasaan spiritual sebuah pengingat bahwa Tuhan paling dekat saat hati memilih tenang dan jujur.
.jpg)
Post a Comment