Hingga Dunia Selesai Menuntut Puisi Tentang Diamnya Laki-laki
Hingga Dunia Selesai Menuntut
Oleh Penulis Indie
Dunia tidak pernah bertanya
apakah aku siap.
Ia datang dengan daftar tuntutan
yang terus bertambah,
sementara aku belajar
menyusun napas
agar tetap berdiri.
Setiap pagi,
aku mengenakan peran
seperti pakaian yang harus pas.
Tidak boleh kebesaran,
tidak boleh robek,
meski di dalamnya
ada letih
yang tak sempat kering.
Aku pernah ingin berhenti sejenak,
meletakkan semua kewajiban
di satu sudut hidup,
lalu berjalan tanpa beban.
Namun dunia menatapku
tanpa memberi pilihan,
dan aku kembali melangkah
dengan pundak yang sama.
Aku belajar bahwa tuntutan
tidak selalu datang dari luar.
Sering kali ia tumbuh
di dalam diri:
keinginan untuk cukup,
takut mengecewakan,
dan janji
yang terlanjur diucapkan.
Di antara suara-suara itu,
aku memilih diam.
Bukan karena kalah,
melainkan karena sadar
tidak semua harus dijelaskan.
Kadang, bertahan
adalah jawaban paling jujur
yang bisa kuberikan.
Malam menjadi tempatku
menurunkan sebagian beban.
Aku duduk berhadapan dengan Tuhan
tanpa banyak kata.
Aku tahu,
Ia mengerti tuntutan
yang tak mampu kusebut satu per satu.
Jika esok dunia kembali menuntut,
aku akan tetap melangkah.
Bukan karena aku tidak lelah,
melainkan karena ada nilai
yang tidak ingin kulepaskan.
Ada amanah
yang harus kuselesaikan
meski perlahan.
Dan bila suatu hari
dunia selesai menuntut,
mungkin aku akan duduk tenang,
menghitung napas yang tersisa,
lalu tersenyum kecil.
Bukan karena semuanya mudah,
melainkan karena aku telah bertahan
sejauh yang kubisa,
tanpa meninggalkan
apa yang kuanggap benar.
Hingga saat itu tiba,
biarlah aku terus berjalan,
memikul tuntutan
dengan langkah sederhana,
dan hati
yang kucoba jaga
agar tetap jujur.
Aceh, 02 Februari 2026
(Puisi ini ditulis dengan bantuan AI berdasarkan gagasan dan arahan penulis).
*** Puisi “Hingga Dunia Selesai Menuntut” merefleksikan pengalaman manusia yang hidup di bawah tekanan tuntutan yang seolah tidak pernah usai. Dunia digambarkan sebagai entitas yang terus meminta peran, tanggung jawab, dan pembuktian, tanpa memberi ruang untuk bertanya apakah seseorang sudah siap atau tidak.
Tokoh aku dalam puisi ini menjalani keseharian dengan mengenakan “peran” sebagai kewajiban hidup. Peran tersebut harus dijalani dengan rapi dan utuh, meskipun di dalamnya tersimpan kelelahan yang jarang mendapat tempat untuk diakui. Ini menggambarkan realitas banyak orang yang dipaksa tampil kuat demi memenuhi ekspektasi.
Puisi ini juga menyoroti bahwa tuntutan tidak hanya datang dari luar, tetapi juga tumbuh dari dalam diri rasa takut mengecewakan, keinginan untuk cukup, dan janji yang sudah terlanjur diucapkan. Konflik batin inilah yang sering kali membuat beban terasa semakin berat.
Diam kembali menjadi sikap penting dalam puisi ini. Diam bukan simbol kekalahan, melainkan pilihan sadar untuk bertahan tanpa harus menjelaskan segalanya. Bertahan diposisikan sebagai bentuk jawaban paling jujur atas tuntutan hidup yang kompleks.
Relasi dengan Tuhan menjadi ruang istirahat batin. Malam hari digambarkan sebagai waktu ketika tokoh aku menurunkan sebagian beban dan menyerahkannya kepada Tuhan, yang memahami tuntutan tanpa perlu penjelasan panjang. Aspek spiritual ini menjadi sumber kekuatan agar ia tetap sanggup melangkah.
Bagian akhir puisi membawa nada penerimaan. Harapan bukan pada hilangnya tuntutan secara tiba-tiba, melainkan pada kemampuan untuk menyelesaikannya dengan jujur dan setia pada nilai yang diyakini. “Hingga Dunia Selesai Menuntut” mengajak pembaca merenungkan bahwa keteguhan hidup tidak selalu tentang kemenangan besar, tetapi tentang kesanggupan bertahan hingga akhir tanpa mengkhianati diri sendiri.

Post a Comment