Kesalahan yang Tidak Pernah Memilih Tubuh Puisi Tentang Diamnya Laki-Laki

Table of Contents
Kesalahan yang Tidak Pernah Memilih Tubuh Puisi Tentang Diamnya Laki-Laki

Kesalahan yang Tidak Pernah Memilih Tubuh
Oleh Penulis Indie

Kesalahan sering datang
tanpa mengetuk pintu.
Ia tidak bertanya
siapa yang paling pantas menanggungnya,
tidak pula memilih
tubuh yang paling kuat.
Ia hanya jatuh begitu saja,
lalu seseorang harus berdiri
untuk memikulnya.

Aku pernah menjadi orang itu.
Yang tiba-tiba ditunjuk keadaan,
disebut bertanggung jawab
atas sesuatu
yang tidak pernah benar-benar kumulai.
Namun hidup tak memberi ruang
untuk berdebat terlalu lama,
sebab waktu terus berjalan
dan luka tak menunggu kesepakatan.

Di tubuh ini,
kesalahan menempel seperti debu.
Sebagian bukan milikku,
namun tetap harus kubersihkan.
Bukan demi namaku,
melainkan demi mereka
yang bisa ikut terluka
jika aku memilih pergi.

Aku ingin menjelaskan,
ingin membuka semua kronologi,
ingin dunia tahu
bahwa tidak semua beban
lahir dari niat yang salah.
Namun aku belajar,
bahwa kebenaran sering kalah cepat
oleh tuduhan,
dan diam kadang
menjadi satu-satunya cara
agar keadaan tidak semakin rusak.

Tubuh ini belajar menahan.
Menahan marah,
menahan kecewa,
menahan letih
yang tak tahu harus diletakkan di mana.
Ia berjalan dengan luka yang rapi,
disembunyikan di balik rutinitas,
agar hidup tetap terlihat baik-baik saja.

Pada malam yang paling jujur,
aku bertanya pada Tuhan:
mengapa kesalahan
sering mencari orang
yang sedang berusaha benar?
Tuhan tidak selalu menjawab,
namun memberi cukup kuat
untuk tetap bertahan
tanpa kehilangan iman.

Aku tahu,
kesalahan tidak pernah memilih tubuh.
Ia bisa jatuh pada siapa saja,
pada yang siap
atau yang sedang rapuh.
Dan kedewasaan
bukan tentang bebas darinya,
melainkan tentang
apa yang kita lakukan
saat ia tiba.

Jika suatu hari tubuh ini lelah,
jangan salahkan ia karena ingin berhenti.
Ia sudah terlalu lama
menjadi tempat singgah
bagi beban yang bukan miliknya.
Namun selama masih ada napas,
aku akan tetap berjalan,
membersihkan semampuku,
menjaga semestinya.

Biarlah dunia mencatat salahku
dengan caranya sendiri.
Aku hanya ingin Tuhan tahu,
bahwa di balik tubuh yang dituding,
ada niat yang berusaha lurus,
ada tanggung jawab yang tidak kutinggalkan,
dan ada manusia
yang tetap memilih bertahan
meski kesalahan
tidak pernah memilih
tubuh siapa yang harus ia huni.
Aceh, 02 Februari 2026
(Puisi ini ditulis dengan bantuan AI berdasarkan gagasan dan arahan penulis).

*** Puisi “Kesalahan yang Tidak Pernah Memilih Tubuh” menggambarkan realitas pahit bahwa kesalahan tidak selalu jatuh pada orang yang benar-benar bersalah. Kesalahan digambarkan sebagai sesuatu yang datang tiba-tiba, tanpa logika keadilan, dan sering kali menempel pada siapa saja yang sedang berada di posisi terdekat atau paling bertanggung jawab.

Puisi ini menyoroti pengalaman batin seseorang yang harus memikul beban atas peristiwa yang tidak sepenuhnya ia mulai. Tokoh aku tidak digambarkan sebagai korban pasif, melainkan sebagai manusia yang tetap memilih bertanggung jawab demi mencegah luka yang lebih besar bagi orang lain. Inilah bentuk kedewasaan yang sunyi menanggung bukan karena ingin dipuji, tetapi karena sadar akan akibat jika ia memilih pergi.

Tema diam kembali menjadi sikap penting. Keinginan untuk menjelaskan dan membersihkan nama diri berhadapan dengan kenyataan bahwa kebenaran sering kalah cepat dari tuduhan. Diam dalam puisi ini bukan penyerahan diri, melainkan upaya merawat keadaan agar tidak semakin rusak. Diam menjadi bentuk pengendalian diri dan pengorbanan batin.

Tubuh dalam puisi berfungsi sebagai metafora tempat bersemayamnya beban. Tubuh digambarkan belajar menahan marah, kecewa, dan lelah serta tetap berjalan dengan luka yang disembunyikan di balik rutinitas. Ini menegaskan bahwa penderitaan tidak selalu tampak, dan kekuatan sering bekerja secara tersembunyi.

Relasi dengan Tuhan menjadi ruang paling jujur bagi tokoh aku. Pertanyaan tentang keadilan tidak selalu mendapat jawaban, namun digantikan dengan kekuatan untuk bertahan dan menjaga iman. Tuhan hadir bukan sebagai penghapus kesalahan, melainkan sebagai sumber keteguhan agar manusia tidak runtuh oleh keadaan.

Secara keseluruhan, puisi ini menegaskan bahwa kedewasaan bukan tentang bebas dari kesalahan, melainkan tentang sikap saat kesalahan datang. “Kesalahan yang Tidak Pernah Memilih Tubuh” mengajak pembaca untuk lebih berempati bahwa di balik seseorang yang dituding, bisa jadi ada niat baik, tanggung jawab, dan perjuangan yang tidak pernah terlihat oleh mata dunia.

Post a Comment