Langit yang Dipikul Tanpa Keluhan Puisi Tentang Diamnya Laki-Laki
Langit yang Dipikul Tanpa Keluhan
Sejak pagi,
langit sudah terasa berat.
Bukan karena mendung,
melainkan karena harapan
yang diletakkan terlalu banyak
di atas pundakku.
Namun aku tetap berjalan,
seolah beban itu
adalah bagian dari napas.
Aku belajar bahwa keluhan
tidak selalu membuat ringan.
Kadang ia hanya menambah suara
di dunia yang sudah terlalu gaduh.
Maka aku memilih diam,
membiarkan pundak ini bekerja,
sementara hati
kucoba jaga
agar tidak runtuh.
Di balik senyum yang tampak biasa,
ada doa-doa
yang kutitipkan pada setiap langkah.
Doa agar aku cukup kuat
menjadi penyangga,
cukup sabar
menjadi penahan,
dan cukup jujur
untuk tidak berpura-pura
bahwa semua baik-baik saja.
Langit itu luas,
dan aku tahu
aku tidak akan sanggup
memikulnya sendirian.
Namun hidup tidak memberi pilihan
selain bertahan.
Sebab jika aku jatuh,
banyak mimpi
akan ikut terhempas.
Malam menjadi tempatku
menurunkan sedikit beban.
Bukan kepada dunia,
melainkan kepada Tuhan
yang mengerti
bahwa kuat pun punya batas.
Di sanalah aku mengaku
tanpa takut dihakimi,
tanpa perlu menjelaskan apa pun.
Aku tahu,
tidak semua perjuangan
akan diingat.
Tidak semua keteguhan
akan dipuji.
Namun itu tidak mengapa,
selama langit yang kupikul
tidak jatuh
menimpa mereka
yang kuusahakan lindungi.
Jika suatu hari pundak ini gemetar,
jangan kira aku ingin menyerah.
Mungkin aku hanya sedang
mengatur napas,
menguatkan niat,
agar bisa melangkah lagi
tanpa membawa dendam
pada keadaan.
Biarlah aku dikenal
sebagai orang biasa
yang diam-diam memikul langit.
Tanpa keluhan,
tanpa sorotan.
Cukup Tuhan yang tahu
bahwa di balik langkah yang tenang,
ada beban yang berat
dan doa
yang tak pernah putus.
Aceh, 02 Februari 2026
(Puisi ini ditulis dengan bantuan AI berdasarkan gagasan dan arahan penulis).
*** Puisi “Langit yang Dipikul Tanpa Keluhan” menggambarkan potret keteguhan batin seseorang yang menjalani hidup sebagai penyangga harapan banyak orang. Langit dalam puisi ini menjadi metafora bagi beban besar: tuntutan, impian, dan tanggung jawab yang sering kali diletakkan di atas pundak seseorang tanpa ia sempat menolak.
Puisi ini menekankan pilihan diam sebagai sikap sadar. Tokoh aku memahami bahwa keluhan tidak selalu meringankan beban, bahkan sering menambah kebisingan. Karena itu, ia memilih memikul beban dengan tenang, menjaga agar hatinya tidak runtuh meski pundaknya terus bekerja. Diam di sini bukan tanda ketidakpedulian, melainkan bentuk kedewasaan dan pengendalian diri.
Doa menjadi unsur penting yang mengiringi setiap langkah. Doa tidak selalu diucapkan dengan kata-kata, tetapi hadir sebagai bisikan batin yang menjaga kekuatan, kesabaran, dan kejujuran. Doa menjadi jembatan antara keterbatasan manusia dan kebutuhan untuk tetap bertahan.
Puisi ini juga menegaskan bahwa beban hidup sering kali terlalu besar untuk dipikul sendirian. Namun, keadaan memaksa tokoh aku untuk tetap berdiri karena kejatuhannya dapat berdampak pada orang lain. Inilah bentuk pengorbanan sunyi bertahan bukan demi diri sendiri, tetapi demi melindungi mimpi dan harapan orang lain.
Malam digambarkan sebagai ruang paling jujur, tempat tokoh aku menurunkan beban kepada Tuhan. Di hadapan Tuhan, ia tidak perlu tampil kuat. Ia boleh mengakui lelah tanpa takut dihakimi. Relasi spiritual ini menjadi sumber ketenangan dan penguatan kembali.
Pada akhirnya, puisi ini menegaskan bahwa tidak semua keteguhan perlu disaksikan atau dipuji. “Langit yang Dipikul Tanpa Keluhan” adalah refleksi tentang kekuatan yang bekerja dalam diam tentang seseorang yang memilih memikul beban dengan ikhlas, menjaga hati tetap bersih, dan membiarkan Tuhan menjadi satu-satunya saksi atas perjuangannya.
.jpg)
Post a Comment