Lapar yang Mengajari Rendah Hati Puisi Tentang Bulan Suci Ramadhan
Lapar yang Mengajari Rendah Hati
Oleh Penulis Indie
Di hari ketika perutku berbunyi
lebih nyaring dari pikiranku sendiri,
aku belajar sesuatu yang tak diajarkan kenyang
bahwa tubuh ini rapuh
dan aku terlalu sering merasa cukup.
Lapar datang
bukan sebagai musuh,
melainkan tamu yang tak pernah diundang
namun selalu membawa pesan.
Ia mengetuk dari dalam,
pelan tapi terus-menerus,
seperti suara hati
yang lama tidak kuajak bicara.
Aku kira selama ini
yang membuatku kuat adalah isi piringku,
ternyata yang membuatku tegak
adalah izin Tuhan
yang menahan nikmat beberapa jam saja.
Di siang yang panjang,
aku melihat orang-orang berjalan
dengan wajah biasa,
namun di dalam dadanya
mungkin ada perang kecil
antara sabar dan keinginan.
Aku pun demikian.
Lapar membuatku menyadari
betapa mudahnya aku menilai orang lain
ketika perutku penuh.
Betapa ringan lisanku berkata
“Harusnya bisa lebih bersyukur,”
tanpa pernah merasakan
kosong yang benar-benar kosong.
Hari ini,
kosong itu tinggal di tubuhku.
Dan aku mulai paham
mengapa mereka yang hidupnya kekurangan
sering kali lebih lembut tatapannya.
Karena lapar
mengikis kesombongan
seperti ombak yang sabar mengikis batu.
Ia mengajarkan pelan-pelan
bahwa manusia bukan apa-apa
tanpa sebutir nasi
yang kadang kita sisakan di pinggir piring.
Aku teringat wajah-wajah
yang menunggu waktu berbuka
dengan doa yang sederhana.
Tidak meminta dunia,
hanya meminta cukup.
Betapa tinggi dulu aku berjalan
seolah hidup adalah hasil jerih payahku semata,
seolah rezeki adalah prestasi pribadi.
Padahal satu hari saja tanpa makan
aku sudah kehilangan fokus,
kehilangan sabar,
kehilangan banyak hal yang kubanggakan.
Lapar mengajariku
bahwa aku ini kecil.
Bahwa kesombongan tidak tahan
terhadap perut yang kosong.
Di sela haus dan lemah,
aku menemukan diriku
lebih jujur.
Doaku tak lagi panjang dan rumit,
hanya satu kalimat yang terus berulang:
“Tuhan, cukupkan aku.”
Dan dalam kata “cukup” itu
ada pengakuan
bahwa aku tak pernah benar-benar memiliki apa pun.
Saat azan akhirnya tiba,
air yang menyentuh bibirku
bukan hanya melepaskan dahaga,
tetapi juga meluruhkan ego
yang selama ini tak kusadari tumbuh.
Segelas air
terasa lebih berharga
daripada pujian manusia.
Sepiring nasi
lebih menggetarkan
daripada tepuk tangan.
Lapar yang singgah hari ini
tidak hanya menahan tubuhku,
ia menundukkan hatiku.
Ia mengajariku
bahwa rendah hati bukan tentang kata-kata lembut,
melainkan kesadaran
bahwa semua yang kita genggam
bisa saja ditarik
tanpa pemberitahuan.
Dan ketika malam turun,
aku duduk lebih lama dari biasanya,
memandangi sisa rezeki di meja
dengan rasa yang berbeda.
Aku tidak lagi melihatnya
sebagai sesuatu yang wajar.
Aku melihatnya sebagai amanah.
Jika esok lapar datang lagi,
aku tak ingin mengusirnya cepat-cepat.
Biarlah ia tinggal beberapa jam,
mengajariku kembali
tentang siapa diriku
yang sebenarnya.
Bahwa aku hanyalah hamba
yang mudah lupa
jika tidak disentuh kekurangan.
Dan lapar
dengan segala sunyinya
adalah guru
yang tidak banyak bicara,
namun paling jujur
mengajari rendah hati.
Aceh, 12 Februari 2026
(Puisi ini ditulis dengan bantuan AI berdasarkan gagasan dan arahan penulis).
Sejak awal, penyair menunjukkan pergeseran kesadaran: ketika perut kosong, manusia menjadi lebih jujur terhadap dirinya sendiri. Lapar membuat tokoh “aku” menyadari betapa selama ini ia merasa kuat, cukup, bahkan mungkin superior padahal semua itu berdiri di atas nikmat yang sangat sederhana: makanan dan minuman. Dengan hanya menahan beberapa jam, ia melihat betapa rapuh dirinya.
Puisi ini juga mengandung kritik halus terhadap sikap manusia yang mudah menilai orang lain ketika hidupnya serba cukup. Dalam keadaan kenyang, nasihat terasa ringan diucapkan. Namun ketika lapar benar-benar dirasakan, empati tumbuh secara alami. Ada kesadaran bahwa banyak orang hidup dalam kondisi “puasa” yang tidak hanya berlangsung dari fajar hingga magrib, tetapi sepanjang hidup mereka.
Bagian paling kuat dari puisi ini terletak pada makna kata “cukup.” Doa menjadi sederhana. Tidak lagi panjang dan ambisius, hanya permohonan agar Tuhan mencukupkan. Di sini terlihat pergeseran spiritual: dari keinginan menguasai hidup menjadi kerendahan hati untuk menerima.
Ketika azan tiba dan segelas air menyentuh bibir, momen itu bukan hanya pelepas dahaga, tetapi simbol peluruhan ego. Hal-hal yang sebelumnya dianggap biasa air, nasi menjadi luar biasa. Lapar telah mengubah cara pandang.
Secara keseluruhan, puisi ini ingin menyampaikan bahwa kerendahan hati sering kali lahir bukan dari kelimpahan, tetapi dari kekurangan. Lapar adalah cara Tuhan mengingatkan manusia tentang keterbatasannya. Ia menjadi sarana penyucian hati, penumbuh empati, dan penghancur kesombongan.
Puisi ini tidak berteriak. Ia berbicara pelan, seperti rasa lapar itu sendiri, diam, tapi mengguncang dari dalam.

Post a Comment