Puasa, Cara Tuhan Mengajak Diam Puisi Tentang Bulan Suci Ramadhan
Puasa, Cara Tuhan Mengajak Diam
Oleh Penulis Indie
Puasa datang bukan sebagai perintah yang keras,
melainkan sebagai ajakan pelan
untuk berhenti sejenak
dari dunia yang terlalu sering memanggil.
Tuhan tidak langsung meminta lidah berdoa,
Ia lebih dulu mengajakku diam,
menahan lapar,
agar aku tahu rasanya tidak selalu menuruti ingin.
Di antara perut yang kosong
dan waktu yang berjalan lambat,
aku mulai mendengar sesuatu
yang selama ini tertimbun suara:
hatiku sendiri.
Puasa mengajarkanku
bahwa kenyang sering membuat lupa,
sementara lapar
membuat ingatan menjadi jujur.
Aku belajar menahan tangan
dari menunjuk kesalahan orang lain,
menahan mulut
dari kalimat yang ingin menang sendiri,
dan menahan hati
agar tidak selalu merasa paling benar.
Siang hari menjadi ruang ujian,
bukan tentang haus atau lelah,
melainkan tentang sabar
yang tidak perlu disaksikan siapa-siapa.
Di sore yang pelan,
aku menyadari,
Tuhan tidak pernah terburu-buru
menerimaku kembali.
Ia menungguku mengerti
bahwa diam juga bentuk ibadah.
Malam datang membawa cermin,
sajadah menjadi tempat paling jujur
bagi seorang manusia
yang lelah berpura-pura baik.
Di situ aku duduk tanpa gelar,
tanpa pembenaran,
tanpa alasan panjang,
hanya membawa penyesalan
dan harapan yang gemetar.
Puasa tidak menjadikanku suci,
ia hanya mengurangi suaraku sendiri
agar Tuhan lebih terdengar.
Aku mengerti kini,
diam bukan berarti kosong,
diam adalah cara Tuhan
mengisi dadaku perlahan.
Dan jika kelak puasa pergi,
aku berharap sunyinya tinggal,
agar aku tetap ingat
bagaimana caranya menahan diri
dan tidak selalu bersuara
saat seharusnya aku berdoa.
Aceh, 02 Februari 2026
(Puisi ini ditulis dengan bantuan AI berdasarkan gagasan dan arahan penulis).
*** Puisi “Puasa, Cara Tuhan Mengajak Diam” menempatkan puasa sebagai pengalaman batin yang lembut dan reflektif, bukan sekadar kewajiban ritual. Puasa digambarkan bukan sebagai perintah yang keras, melainkan sebagai undangan pelan dari Tuhan agar manusia berhenti sejenak dari kebisingan dunia dan belajar mendengarkan dirinya sendiri.
Dalam puisi ini, lapar dan haus tidak diposisikan sebagai penderitaan, tetapi sebagai sarana pendidikan spiritual. Lapar menjadi cara Tuhan mengurangi dominasi keinginan manusia—mengajarkan bahwa tidak semua hasrat harus dipenuhi, dan tidak semua suara perlu diikuti. Dari kekosongan fisik itu, lahirlah kepekaan batin yang selama ini tertutup oleh rasa kenyang dan kesibukan.
Diam menjadi tema sentral puisi. Diam bukan tanda pasrah atau kehampaan, melainkan bentuk ibadah yang sunyi. Melalui penahanan ucapan, emosi, dan ego, tokoh aku belajar bahwa kedewasaan spiritual tidak selalu tampak dalam banyaknya kata, tetapi dalam kemampuan menahan diri tanpa perlu disaksikan atau dipuji.
Puisi ini juga menyoroti pergeseran makna ujian puasa. Ujian sesungguhnya tidak terjadi pada rasa lapar di siang hari, melainkan pada kesabaran yang tersembunyi ketika tidak ada yang melihat, tidak ada yang menilai, dan tidak ada yang memberi penghargaan selain Tuhan.
Pada bagian malam, sajadah digambarkan sebagai ruang paling jujur. Di sanalah tokoh aku hadir sebagai manusia apa adanya, melepaskan topeng kebaikan, gelar, dan pembenaran diri. Doa yang lahir bukan dari rasa suci, melainkan dari keletihan dan kesadaran akan keterbatasan.
Kesimpulan reflektif puisi ini menegaskan bahwa puasa tidak menjadikan manusia otomatis suci, tetapi membantu meredam suara ego agar kehadiran Tuhan lebih terasa. Diam dipahami sebagai cara Tuhan mengisi hati manusia secara perlahan dan penuh kasih.
Pada akhirnya, puisi ini menyampaikan harapan agar nilai puasa tidak berhenti ketika bulan suci berlalu. Sunyi, pengendalian diri, dan kesadaran batin diharapkan tetap tinggal menjadi pengingat bahwa tidak semua hal harus diucapkan, dan tidak semua respon lebih penting daripada doa.
.jpg)
Post a Comment