Ramadhan dan Sunyi yang Mengajarkanku Pulang Puisi Tentang Bulan Suci Ramadhan

Table of Contents
Ramadhan dan Sunyi yang Mengajarkanku Pulang Puisi Tentang Bulan Suci Ramadhan

Ramadhan dan Sunyi yang Mengajarkanku Pulang
Oleh Penulis Indie

Ramadhan datang tanpa suara,
seperti ibu yang menunggu di ambang pintu,
tak bertanya ke mana aku pergi,
tak menagih alasan mengapa aku sering lupa jalan pulang.

Ia hadir bersama sunyi,
sunyi yang tak menakutkan,
sunyi yang justru mengajak duduk,
mengajarkanku mendengar detak dada sendiri,
yang lama berisik oleh dunia.

Di bulan ini,
waktu berjalan lebih pelan,
adzan terdengar lebih dalam,
seolah setiap seruan adalah panggilan nama
yang selama ini kusembunyikan dari doa.

Aku belajar lapar,
bukan sekadar menahan perut,
tapi menahan keinginan untuk merasa benar,
menahan lidah dari kalimat yang menyakiti,
menahan hati agar tak selalu ingin dimenangkan.

Ramadhan mengajarkanku,
bahwa kosong tidak selalu berarti kehilangan,
kadang kosong adalah ruang
agar Tuhan bisa masuk tanpa harus didesak.

Sunyi malam-malamnya
adalah cermin panjang,
tempat aku melihat wajahku sendiri
yang letih oleh ambisi,
retak oleh kecewa,
dan sering lupa bersyukur
saat hidup masih memberiku napas.

Di sajadah yang lusuh,
aku duduk sebagai manusia paling jujur,
tanpa jabatan,
tanpa pujian,
tanpa topeng kebaikan
yang biasa kupakai di siang hari.

Aku pulang perlahan,
bukan sebagai pemenang,
melainkan sebagai anak
yang akhirnya lelah berlari.

Ramadhan tidak memaksaku berubah,
ia hanya membuka pintu,
lalu berkata dengan sabar:
“Jika kau ingin pulang,
Aku masih di sini.”

Dan sunyi menjadi guru terbaik,
mengajarkanku bahwa pulang
bukan tentang sejauh apa aku pergi,
melainkan seberapa jujur aku mengakui
bahwa aku pernah tersesat.

Di akhir doa yang gemetar,
aku tahu,
Ramadhan bukan bulan untuk menjadi suci,
melainkan bulan untuk belajar kembali
menjadi manusia.
Aceh, 02 Februari 2026
(Puisi ini ditulis dengan bantuan AI berdasarkan gagasan dan arahan penulis).

*** Puisi “Ramadhan dan Sunyi yang Mengajarkanku Pulang” menghadirkan Ramadhan sebagai ruang batin yang tenang dan penuh penerimaan. Ramadhan tidak digambarkan sebagai perayaan yang ramai, melainkan sebagai kedatangan sunyi yang perlahan menyentuh hati, membersihkan pikiran dari hiruk-pikuk dunia, dan mengajak manusia kembali kepada dirinya sendiri.

Lapar dan puasa dalam puisi ini tidak dimaknai sebatas ritual fisik, tetapi sebagai proses pendewasaan batin. Lapar menjadi guru yang mengajarkan kesabaran, pengendalian diri, dan kerendahan hati. Melalui penahanan keinginan, tokoh aku belajar bahwa tidak semua hal harus segera dipenuhi, dan tidak semua kehendak layak diikuti.

Sunyi menjadi bahasa utama antara hamba dan Tuhan. Diam yang dipilih bukan karena kehampaan, melainkan karena di dalam keheningan itulah kejujuran paling murni hadir. Pada sepertiga malam, tokoh aku digambarkan “pulang” ke diri sendiri, menemukan kembali sisi batin yang lama terabaikan, disertai tangis dan doa yang selama ini tertahan.

Puisi ini juga menekankan sifat Ramadhan yang penuh kasih dan penerimaan. Ramadhan tidak menghakimi dosa masa lalu, tetapi membuka pintu taubat dengan lembut. Ajakan untuk “membersihkan kaki” sebelum masuk menjadi simbol penyucian diri dan pelepasan beban duniawi sebelum kembali mendekat kepada Tuhan.

Kesadaran diri menjadi inti refleksi puisi ini. Tokoh aku menunduk bukan karena ketakutan, tetapi karena kesadaran akan kesombongan, kesibukan, dan penilaian yang berlebihan terhadap diri dan orang lain. Ramadhan hadir sebagai cermin yang jujur, tanpa paksaan untuk terlihat suci.

Pada akhirnya, puisi ini menyampaikan pesan bahwa Ramadhan memang berlalu secara waktu, namun nilai dan pelajarannya seharusnya tetap tinggal. Sunyi Ramadhan menjadi jalan pulang, pengingat bahwa kedekatan dengan Tuhan dapat ditemukan di tengah kesederhanaan hidup, bahkan setelah bulan suci berakhir. Puisi ini mengajak pembaca menjadikan Ramadhan bukan sekadar musim ibadah, melainkan titik balik menuju kerendahan hati dan kesadaran spiritual yang lebih dalam.

Post a Comment