Ramadhan yang Menundukkan Kesibukan Puisi Tentang Bulan Puasa yang Menyentuh Hati
Ramadhan yang Menundukkan Kesibukan
Oleh Penulis Indie
Ramadhan datang
tanpa mengetuk keras pintu hidupku,
ia hanya membuat waktu melambat,
agar aku sadar
betapa sering aku berlari
tanpa tahu ke mana pulang.
Di bulan ini,
jam-jam kehilangan suaranya,
kesibukan yang biasa kubanggakan
menjadi lelah dan tertunduk,
seolah akhirnya mengerti
bahwa tidak semua yang cepat
adalah yang paling penting.
Aku belajar berhenti sejenak,
bukan karena dunia selesai,
tetapi karena hatiku kehabisan ruang
untuk sekadar bernapas.
Ramadhan mengajarkanku
bahwa sibuk tidak selalu berarti berguna,
kadang hanya cara halus
untuk lari dari diri sendiri.
Lapar datang sebagai pengingat,
bukan untuk menyiksa,
melainkan untuk membisikkan:
ada hal-hal yang tak bisa dibeli
dengan jadwal padat dan pencapaian.
Di siang hari,
aku menahan diri dari tergesa,
menahan langkah
agar tidak selalu ingin lebih dulu.
Sore menjelang magrib
membuatku belajar menunggu,
dan dari menunggu itu
aku paham,
iman pun butuh waktu
untuk matang.
Malam-malam Ramadhan
menyederhanakan hidupku,
sajadah menjadi tempat paling jujur
untuk meletakkan lelah
yang tak sempat kuceritakan
kepada siapa pun.
Aku datang tanpa kesibukan,
tanpa daftar pencapaian,
tanpa kebanggaan,
hanya membawa diri
yang ingin dimaafkan.
Ramadhan tidak mengambil pekerjaanku,
ia hanya menundukkan kesibukanku,
agar aku ingat
siapa yang selama ini
paling sering kutinggalkan.
Dan jika kelak bulan ini pergi,
aku berharap kesederhanaannya tinggal,
agar aku tidak lagi terlalu sibuk
hingga lupa
bagaimana caranya menjadi manusia.
Aceh, 02 Februari 2026
(Puisi ini ditulis dengan bantuan AI berdasarkan gagasan dan arahan penulis).
*** Puisi “Ramadhan yang Menundukkan Kesibukan” menghadirkan Ramadhan sebagai kekuatan lembut yang tidak menghentikan aktivitas manusia, tetapi menata ulang cara manusia memaknai kesibukan. Puisi ini tidak memposisikan Ramadhan sebagai penghalang produktivitas, melainkan sebagai ruang jeda yang menyadarkan bahwa hidup tidak selalu harus dijalani dengan tergesa dan penuh tuntutan.
Kesibukan dalam puisi ini digambarkan sebagai sesuatu yang sering dibanggakan, namun perlahan kehilangan makna ketika hati kehabisan ruang untuk bernapas. Ramadhan hadir dengan cara memperlambat waktu, membuat jam-jam terasa sunyi sehingga tokoh aku dapat melihat kembali ke mana sebenarnya arah langkahnya selama ini.
Lapar berfungsi sebagai simbol pengingat, bukan penderitaan. Ia menjadi bahasa Tuhan yang halus, menegaskan bahwa ada nilai-nilai kehidupan yang tidak bisa dibeli oleh jadwal padat, ambisi, atau pencapaian. Dalam kondisi menahan diri, tokoh aku belajar bahwa sibuk tidak selalu identik dengan berguna; kadang kesibukan justru menjadi bentuk pelarian dari perjumpaan dengan diri sendiri.
Puisi ini juga menyoroti proses menunggu sebagai latihan iman. Sore menjelang magrib digambarkan sebagai momen reflektif, di mana menunggu bukan lagi hal yang menjengkelkan, melainkan bagian dari pendewasaan batin. Iman, sebagaimana manusia, membutuhkan waktu untuk tumbuh dan matang.
Pada malam hari, sajadah menjadi simbol penyederhanaan hidup. Di hadapannya, tokoh aku melepaskan identitas, target, dan kebanggaan duniawi. Ia hadir sebagai manusia utuh yang membawa lelah dan harapan akan ampunan, tanpa perlu menunjukkan prestasi apa pun.
Inti puisi ini terletak pada kalimat bahwa Ramadhan tidak mengambil pekerjaan atau aktivitas, melainkan “menundukkan kesibukan.” Artinya, Ramadhan mengajarkan prioritas, menempatkan kembali Tuhan, diri, dan makna hidup di atas rutinitas yang selama ini menyita perhatian.
Pada akhirnya, puisi ini menyampaikan harapan agar nilai kesederhanaan Ramadhan tetap tinggal setelah bulan suci berlalu. Pembaca diajak untuk tidak kembali terjebak dalam kesibukan yang membutakan, melainkan menjalani hidup dengan kesadaran, keseimbangan, dan kemanusiaan yang lebih utuh.
.jpg)
Post a Comment