Sajadah yang Lebih Lama Menunggu Puisi Tentang Bulan Suci Ramadhan
Sajadah yang Lebih Lama Menunggu
Oleh Penulis Indie
Sajadah itu masih di sudut kamar,
terlipat rapi seperti kesabaran
yang tak pernah kau hitung.
Ia tidak pernah memanggil namaku,
tidak pula mengingatkan dengan suara keras,
hanya diam
dan diamnya
lebih panjang dari alasan-alasanku.
Sudah berapa malam kulewati
tanpa menemuinya?
Sudah berapa kali azan berlalu
sementara aku sibuk
meyakinkan diri bahwa nanti masih sempat?
Sajadah itu lebih setia dari niatku.
Ia menunggu tanpa kecewa,
menunggu tanpa bertanya
ke mana saja aku membawa waktuku.
Kadang aku merasa
bukan aku yang kehilangan arah,
melainkan hatiku yang terlalu sering
menunda pulang.
Di atasnya pernah ada air mata,
pernah ada doa yang lirih,
pernah ada janji-janji
yang kuucapkan dengan gemetar.
Kini yang tersisa hanya debu tipis
dan jarak yang tak terlihat.
Aku berdiri memandanginya malam ini,
dan entah mengapa
yang terasa bukan takut,
melainkan malu.
Bukan karena Tuhan menghitung salahku,
tetapi karena sajadah itu
tak pernah berhenti
menyediakan tempat
bagi kepalaku yang lelah.
Ia tidak mencatat
berapa kali aku absen,
ia hanya tetap terbentang
saat akhirnya aku datang.
Sujud bukan tentang sempurna,
kataku pada diri sendiri,
tetapi tentang berani
merendahkan kepala
di atas tempat yang sudah lama
menunggu dengan sabar.
Sajadah itu lebih lama menunggu
daripada aku berani pulang.
Dan mungkin selama ini
Tuhan tidak jauh,
aku saja yang terlalu sibuk
menunda pertemuan.
Malam ini aku membentangkannya perlahan,
membiarkan kain itu
menyentuh lantai
dan menyentuh dadaku sekaligus.
Tak ada doa panjang,
tak ada kalimat indah,
hanya satu pengakuan sederhana:
Aku kembali,
meski terlambat.
Dan sajadah itu
seperti biasa
tidak pernah mempersoalkan
keterlambatan.
Aceh, 12 Februari 2026
(Puisi ini ditulis dengan bantuan AI berdasarkan gagasan dan arahan penulis).
Sajadah dalam puisi ini dipersonifikasikan sebagai sesuatu yang setia dan sabar. Ia tidak menegur, tidak memanggil, dan tidak menuntut. Ia hanya menunggu. Sikap diam sajadah menjadi kontras dengan tokoh aku yang sibuk, penuh alasan, dan sering menunda waktu untuk kembali bersujud. Di sini, sajadah bukan sekadar benda, tetapi simbol dari pintu yang selalu terbuka meski sering diabaikan.
Puisi ini menggambarkan penundaan spiritual sebagai sesuatu yang halus namun berulang. Bukan penolakan terang-terangan terhadap ibadah, melainkan kebiasaan berkata “nanti masih sempat.” Penundaan itu membuat jarak terasa wajar, hingga suatu malam kesadaran datang dalam bentuk rasa malu, bukan ketakutan. Rasa malu ini menjadi titik balik yang lembut namun kuat.
Menariknya, Tuhan tidak digambarkan sebagai sosok yang menghukum atau menghitung kesalahan. Sebaliknya, sajadah menjadi metafora kasih yang tidak mencatat absen. Ketika tokoh aku akhirnya kembali, tidak ada penolakan atau penghakiman yang ada hanya ruang yang tetap tersedia. Ini menunjukkan bahwa pulang kepada Tuhan tidak menuntut kesempurnaan, melainkan keberanian untuk merendahkan diri.
Sujud dalam puisi ini dimaknai sebagai pengakuan sederhana, bukan demonstrasi kesalehan. Ketika tokoh aku berkata “Aku kembali, meski terlambat,” kalimat itu menjadi inti refleksi: bahwa perjalanan spiritual sering kali tertunda, tetapi pintu kembali selalu ada.
Secara keseluruhan, puisi ini menyampaikan pesan tentang kesetiaan ruang ibadah, kesabaran Tuhan, dan keberanian manusia untuk kembali meski merasa terlambat. Sajadah yang lebih lama menunggu menjadi simbol bahwa jarak spiritual bukan karena Tuhan menjauh, melainkan karena manusia menunda untuk datang.
.jpg)
Post a Comment