Waktu Tuhan Mendekat Tanpa Suara Puisi Tentang Bulan Suci Ramadhan
Ramadhan, Waktu Tuhan Mendekat Tanpa Suara
Oleh Penulis Indie
Ramadhan datang tanpa suara,
tanpa langkah yang bisa kudengar,
tanpa pintu yang benar-benar diketuk
tetapi entah bagaimana,
aku tahu Tuhan sedang lebih dekat dari biasanya.
Tidak ada yang berubah pada langit.
Matahari masih terbit dari arah yang sama,
angin masih berhembus seperti hari-hari sebelumnya,
dan dunia masih sibuk dengan urusannya masing-masing.
Namun ada sesuatu yang diam-diam bergeser di dalam diriku
seperti hati yang perlahan diingatkan
tentang rumah yang pernah ia tinggalkan.
Aku tidak langsung menjadi seseorang yang lebih baik.
Aku masih membawa diriku yang penuh kekurangan,
masih dengan doa-doa yang sering tertunda,
dan iman yang kadang datang, kadang hilang tanpa alasan.
Tetapi Ramadhan tidak menuntutku berubah seketika.
Ia hanya menciptakan ruang
di mana aku tidak lagi bisa bersembunyi dari diriku sendiri.
Di waktu sahur,
ketika dunia masih tertidur dalam gelap yang lembut,
aku duduk dengan sunyi yang tidak menghakimi.
Segelas air di tanganku terasa seperti amanah.
Sepiring makanan di hadapanku terasa seperti kasih sayang
yang selama ini terlalu sering kulupakan untuk disyukuri.
Dan di antara suapan yang sederhana itu,
aku merasakan sesuatu yang jarang kurasakan
ketenangan yang tidak meminta apa pun dariku.
Siang datang dengan lapar yang jujur.
Ia tidak berteriak,
tetapi cukup kuat untuk membuatku menyadari
betapa lemahnya aku sebagai manusia.
Perutku kosong,
tetapi justru di situlah hatiku mulai terisi.
Aku mulai melihat hidup dengan cara yang berbeda.
Hal-hal kecil menjadi berarti.
Hal-hal biasa menjadi berharga.
Aku mulai mengerti
bahwa selama ini aku terlalu sibuk mengejar dunia,
hingga tidak sempat menyadari
bahwa Tuhan tidak pernah benar-benar menjauh.
Akulah yang pergi terlalu jauh.
Dan Ramadhan,
tidak memanggilku dengan suara keras.
Ia hanya mematikan kebisingan
agar aku bisa mendengar kembali suara Tuhan
yang selama ini tenggelam dalam diriku sendiri.
Malam datang dengan cahaya yang lembut.
Lampu-lampu menyala,
tetapi bukan itu yang membuat dunia terasa terang.
Ada sesuatu yang lebih halus dari cahaya
sesuatu yang tidak bisa dilihat,
tetapi bisa dirasakan oleh hati yang akhirnya mau diam.
Aku berdiri di atas sajadah,
tidak sebagai seseorang yang suci,
tetapi sebagai seseorang yang akhirnya berhenti lari.
Aku tidak membawa doa yang panjang.
Aku hanya membawa diriku yang lelah,
dan harapan kecil
bahwa Tuhan masih bersedia menerimaku.
Dan di dalam diam itu,
aku merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata:
bahwa Tuhan tidak pernah benar-benar jauh.
Ia hanya menunggu
hingga aku cukup tenang untuk merasakan kehadiran-Nya.
Ramadhan bukan tentang menjadi sempurna.
Ia adalah tentang menyadari
betapa aku selalu dicintai
meskipun aku sering lupa untuk kembali.
Hari-hari berlalu dengan sunyi yang menyembuhkan.
Aku tidak berubah menjadi malaikat.
Aku masih manusia yang sama.
Tetapi kini aku tahu,
di dalam setiap lapar,
di dalam setiap doa yang terbata,
di dalam setiap air mata yang jatuh tanpa suara
Tuhan selalu ada.
Bukan sebagai sesuatu yang jauh di langit,
tetapi sebagai kehadiran yang tinggal
di dalam hati
yang akhirnya belajar
untuk diam.
Aceh, 28 Februari 2026
(Puisi ini ditulis dengan bantuan AI berdasarkan gagasan dan arahan penulis).
*** Puisi “Ramadhan, Waktu Tuhan Mendekat Tanpa Suara” adalah refleksi tentang bagaimana kehadiran Ramadhan menghadirkan pengalaman spiritual yang halus dan personal. Puisi ini menekankan bahwa kedekatan dengan Tuhan tidak selalu datang melalui peristiwa besar atau perubahan yang dramatis, tetapi justru melalui keheningan, kesederhanaan, dan kesadaran batin yang tumbuh perlahan.
Dalam puisi ini, tokoh “aku” digambarkan sebagai seseorang yang sebelumnya hidup dalam kesibukan dan jarak batin dari Tuhan. Ia tidak digambarkan sebagai sosok yang sepenuhnya tersesat, melainkan manusia biasa yang perlahan kehilangan kepekaan spiritualnya karena rutinitas dan dunia. Ketika Ramadhan datang, tidak ada perubahan yang mencolok secara fisik, tetapi ada perubahan yang sangat dalam di dalam hatinya. Ini menunjukkan bahwa Ramadhan bekerja pada tingkat batin, bukan sekadar pada tingkat lahiriah.
Sahur menjadi simbol awal kesadaran. Dalam suasana sunyi sebelum fajar, tokoh “aku” mulai merasakan ketenangan dan menyadari bahwa hal-hal sederhana seperti makanan, air, dan napas adalah bentuk kasih sayang Tuhan yang selama ini sering diabaikan. Keheningan sahur menciptakan ruang bagi refleksi dan kesadaran diri.
Lapar yang hadir di siang hari berfungsi sebagai sarana pembelajaran. Lapar melemahkan ego dan membuka kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang bergantung. Dalam kondisi ini, tokoh “aku” mulai menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk dengan dunia hingga melupakan kedekatannya dengan Tuhan. Lapar menjadi cara Tuhan melembutkan hati tanpa paksaan.
Malam dalam puisi ini menjadi puncak pertemuan spiritual. Ketika tokoh “aku” berdiri di atas sajadah, ia tidak datang sebagai manusia yang sempurna, tetapi sebagai manusia yang jujur dengan kelemahannya. Ia tidak membawa doa yang indah, melainkan kejujuran dan kerinduan. Ini menunjukkan bahwa yang terpenting dalam hubungan dengan Tuhan bukanlah kesempurnaan, tetapi kejujuran dan ketulusan.
Pesan utama puisi ini adalah bahwa Tuhan tidak pernah benar-benar menjauh dari manusia. Justru manusia yang sering menjauh karena kesibukan dan kelalaian. Ramadhan hadir sebagai waktu yang memperlambat hidup, mengurangi kebisingan, dan membuka ruang agar manusia dapat kembali merasakan kehadiran Tuhan.
Secara keseluruhan, puisi ini menyampaikan bahwa Ramadhan adalah waktu pemulihan dan kepulangan spiritual. Ia mengajarkan bahwa kedekatan dengan Tuhan tidak harus dicari di tempat yang jauh, tetapi dapat ditemukan dalam keheningan hati. Puisi ini mengajak pembaca untuk menyadari bahwa ketika manusia mau diam dan jujur pada dirinya sendiri, ia akan merasakan bahwa Tuhan sebenarnya selalu dekat.

Post a Comment