Aksara Bicara, Aku perempuan yang mencintai aksara Karya Kei Naz
Table of Contents
Aksara Bicara
Aku perempuan yang mencintai aksara,
yang menjadikan huruf-huruf sebagai rumah ketika dunia terasa terlalu bising untuk ditinggali. Di jemariku, luka tidak lagi bernama perih—ia berubah menjadi tinta. Air mata tidak lagi jatuh sia-sia—ia menjelma embun yang menyuburkan kalimat. Aku belajar dari sunyi bagaimana caranya tersenyum tanpa bertanya mengapa dada sering terasa retak. Sebab bagiku, hidup bukan tentang siapa yang menyelamatkan, tetapi tentang bagaimana aku menyelamatkan diriku sendiri, perlahan, tanpa tepuk tangan.
Aku perempuan yang mencintai aksara,
yang menganyam pedih menjadi selendang bahagia, lalu memakainya sebagai topeng ketika berjalan di antara manusia. Mereka melihat tawaku, tetapi tidak mendengar bunyi patah yang kusembunyikan di baliknya. Setiap langkah menuju mimpi seperti meniti kaca—berdarah, namun tetap kupilih. Berkali-kali langkahku patah, berkali-kali hidupku seperti runtuh di hadapan harapan yang terlalu tinggi. Namun aku tidak pernah benar-benar rebah. Aku hanya berlutut sejenak, merapikan serpihan, lalu berdiri lagi dengan wajah yang kupaksa terang.
Aku perempuan yang mencintai aksara,
yang tidak pandai bercerita tentang nestapa. Aku hanya tahu bagaimana berjuang dari detik ke detik berikutnya, seperti napas yang tidak boleh berhenti. Saat mataku terbuka di pagi hari, ada keyakinan kecil yang berbisik bahwa dunia masih mencintaiku—meski aku tahu, hari yang baru berarti pertempuran yang baru pula. Aku harus merajut kembali mimpi-mimpiku dengan benang luka yang belum kering. Aku harus menjahit harapan dengan tangan yang masih gemetar.
Aku perempuan yang mencintai aksara,
yang tidak pernah memohon untuk sembuh dan tidak pula lari dari rapuh. Bagiku, rapuh adalah bagian dari tubuhku sendiri—ia tidak perlu disangkal, hanya perlu dipeluk. Aku tidak menyangkal kehancuran, tetapi aku menolak tinggal di dalamnya. Aku memilih bertahan, sebab bertahan adalah bentuk paling jujur dari keberanian. Jika takdir menuliskan badai, maka aku akan menjadi perahu yang keras kepala, menantang ombak tanpa perlu berteriak.
Aku perempuan yang mencintai aksara,
yang menjadikan setiap tulisan sebagai makam sekaligus kelahiran. Di sana kusimpan ingatan-ingatan berat yang nyaris menenggelamkanku, lalu kurekatkan kembali dengan doa-doa yang tidak pernah selesai. Setiap kalimat adalah laungan yang kupanjatkan diam-diam, agar Tuhan tahu bahwa aku masih ingin hidup dengan utuh. Bahwa aku masih percaya pada cahaya, meski sering kali aku harus menjadi api bagi diriku sendiri.
Aku perempuan yang mencintai aksara,
yang belajar mencintai takdir seperti mencintai luka: perlahan, tanpa syarat, tanpa dendam. Hidup mungkin tidak selalu memelukku dengan lembut, tetapi aku tetap berjalan, membawa serpihan yang tak sempat kusatukan seluruhnya. Ada retak yang masih berbisik di dalam dada, ada mimpi yang belum selesai kusebut namanya. Namun aku tidak lagi bertanya mengapa semuanya harus terjadi padaku.
Aku hanya menulis.
Dan di antara huruf-huruf yang tak pernah benar-benar selesai itu, ada sesuatu yang terus tumbuh—entah luka yang menjelma cahaya, atau cahaya yang diam-diam masih belajar menjadi luka.
___________
Balikpapan, Maret 2026
Keinaz/Lentera Merindu
Baca Juga : Gubahan Puisi Karya Kei Naz Lainnya
***
Demikian puisi karya Kei Naz.
(Catatan Penutup)
Terima kasih telah berkunjung ke website Sampah Kata.
Terima kasih telah berkunjung ke website Sampah Kata.
Salam kopi pahit...

Post a Comment