Pagi yang Kembali Bersih Puisi Tentang Hari Raya Idul Fitri
Pagi yang Kembali Bersih
Oleh Penulis Indie
Pagi ini datang
dengan langkah yang begitu pelan,
seolah ia tahu
bahwa semalam manusia terlalu banyak berdoa
dan terlalu banyak menangis
di antara gema takbir yang panjang.
Langit masih lembut.
Matahari belum sepenuhnya berani
membuka tirai cahaya.
Udara terasa seperti sesuatu
yang baru saja selesai disucikan.
Seperti dunia yang semalam
duduk lama di hadapan Tuhan
dan berkata dengan jujur:
“kami ingin memulai lagi.”
Di jalan-jalan kecil,
orang-orang berjalan menuju masjid.
Langkah mereka tenang,
tidak tergesa-gesa,
seolah setiap langkah
adalah cara lain untuk berterima kasih
kepada hidup yang masih memberi kesempatan.
Anak-anak tertawa
dengan baju yang masih terlalu rapi
untuk ukuran dunia yang sering berantakan.
Mereka belum tahu
bahwa hidup suatu hari
akan mengajarkan arti kehilangan.
Namun pagi ini
biarlah mereka tetap tertawa.
Karena dunia terlalu sering
mengambil sesuatu dari manusia.
Sesekali,
biarkan ia memberi kebahagiaan sederhana.
Di dalam masjid
orang-orang berdiri dalam barisan.
Bahunya bersentuhan.
Tidak ada yang lebih kaya.
Tidak ada yang lebih tinggi.
Hanya manusia
yang sama-sama pernah salah
dan sama-sama berharap
Tuhan masih membuka pintu maaf.
Takbir menggema lagi.
Allahu Akbar...
Suara itu naik ke langit
seperti burung yang pulang
setelah lama terbang tanpa arah.
Dan entah kenapa,
setiap kali takbir terdengar
ada sesuatu di dalam dada
yang terasa luruh perlahan.
Mungkin itu kesombongan.
Mungkin itu luka lama.
Mungkin itu rasa lelah
yang selama ini kita sembunyikan dari siapa pun.
Ramadhan telah selesai.
Sebulan penuh
kita mencoba menjadi manusia
yang sedikit lebih sabar dari biasanya.
Kita menahan lapar,
menahan marah,
menahan kata-kata
yang hampir saja melukai orang lain.
Namun yang paling berat
bukanlah menahan semua itu.
Yang paling berat
adalah menahan diri
agar tidak menyerah pada hidup.
Dan pagi ini
setelah semua yang kita lalui
dunia terasa sedikit lebih ringan.
Seperti seseorang
yang baru saja meletakkan beban panjang
di pinggir jalan
lalu menarik napas dengan lega.
Di halaman rumah
orang-orang saling berjabat tangan.
Ada yang tersenyum.
Ada yang memeluk erat.
Ada yang menahan air mata
karena beberapa nama
tidak lagi hadir di meja makan tahun ini.
Hari raya selalu seperti ini.
Ia membawa kebahagiaan
dan juga kenangan
dalam satu napas yang sama.
Kita mengingat ayah
yang dulu selalu berjalan paling depan menuju masjid.
Kita mengingat ibu
yang doanya lebih kuat dari apa pun di dunia.
Dan di antara ingatan itu
kita belajar sesuatu yang sunyi:
bahwa hidup memang tidak pernah utuh.
Selalu ada yang hilang.
Selalu ada yang tertinggal.
Namun pagi ini
Tuhan seperti berbisik kepada dunia:
“tidak apa-apa.”
Tidak apa-apa jika kita pernah gagal.
Tidak apa-apa jika kita pernah tersesat.
Tidak apa-apa jika hati kita
pernah retak terlalu dalam.
Karena manusia
tidak diciptakan untuk selalu sempurna.
Manusia hanya diciptakan
untuk terus kembali.
Kembali kepada Tuhan.
Kembali kepada kebaikan.
Kembali kepada dirinya sendiri
yang mungkin pernah ia tinggalkan.
Matahari mulai naik.
Cahayanya jatuh di atap rumah,
di wajah anak-anak,
di tangan-tangan yang masih saling menggenggam.
Dan di dalam cahaya itu
ada perasaan yang sulit dijelaskan.
Seperti seseorang yang baru saja sadar
bahwa dunia tidak seburuk yang ia kira.
Bahwa setelah semua kesalahan
setelah semua luka
setelah semua malam panjang
yang pernah kita lalui
pagi selalu punya cara
untuk kembali bersih.
Dan di pagi yang sederhana ini
kita akhirnya mengerti satu hal kecil:
bahwa hidup mungkin tidak selalu mudah,
tetapi Tuhan selalu memberi manusia
kesempatan yang sama
untuk memulai lagi
dengan hati yang lebih tenang.
Aceh, 13 Maret 2026
(Puisi ini ditulis dengan bantuan AI berdasarkan gagasan dan arahan penulis).

Post a Comment