Di Antara Cara Kita Menyebut-Nya Puisi Cinta Tentang Perbedaan, Doa, dan Satu Tujuan yang Sama
Table of Contents
Di Antara Cara Kita Menyebut-Nya
Oleh Penulis Indie
Di suatu sore yang tenang,
lonceng berdentang dari kejauhan,
sementara adzan mengalun pelan
menyusup ke celah-celah langit
yang sama.
Tidak ada yang saling mengalah.
Tidak ada yang saling meninggi.
Keduanya hanya ingin sampai
kepada satu tempat
yang tidak pernah benar-benar bisa kita lihat,
namun selalu kita tuju
dengan cara masing-masing.
Aku berjalan
dengan tasbih di genggaman,
menghitung nama-nama Tuhan
yang berusaha kuingat
di antara dunia yang sering membuat lupa.
Dan di seberang jalan,
kau berdiri
dengan rosario di jemarimu,
mengulang doa-doa
yang mungkin tak kupahami,
namun kurasakan ketulusannya.
Kita berbeda
dalam cara menyebut-Nya.
Namun anehnya,
kita sama
dalam cara berharap.
Aku menunduk
menghadap kiblat yang menuntunku pulang,
kau menatap salib
yang menenangkan hatimu dari gelisah.
Dua arah.
Dua cara.
Dua keyakinan
yang tumbuh dari jalan yang berbeda.
Namun bukankah
kita sama-sama pernah merasa kecil
di hadapan sesuatu yang lebih besar dari diri kita?
Bukankah kita sama-sama
pernah menangis dalam doa
yang tidak selalu kita mengerti jawabannya?
Di dunia yang sering memisahkan,
kita diajarkan untuk memilih sisi,
untuk berdiri di batas
yang seolah tidak boleh dilewati.
Namun hari itu,
aku melihat sesuatu yang berbeda.
Kau tersenyum kepadaku
bukan sebagai seseorang yang berbeda,
tetapi sebagai manusia
yang sama-sama sedang mencari jalan pulang.
Dan aku membalas senyummu,
dengan cara yang sederhana,
tanpa perlu menjelaskan siapa aku
dan siapa dirimu.
Karena mungkin,
tidak semua hal harus diperdebatkan
untuk bisa dimengerti.
Malam datang perlahan.
Lonceng kembali berdentang.
Adzan kembali berkumandang.
Dua suara yang berbeda,
namun keduanya mengajarkan hal yang sama:
tentang panggilan.
Tentang kembali.
Tentang berharap
bahwa kita tidak berjalan sendirian.
Aku melihat tanganmu terkatup,
dan tanganku terangkat.
Dua cara yang tidak sama,
namun membawa makna yang serupa.
Meminta.
Berserah.
Dan berharap
ada sesuatu di atas sana
yang mendengar dengan cara yang tidak kita pahami.
Mungkin benar,
Tuhan memang satu.
Namun manusia
diberi banyak cara
untuk menyebut-Nya.
Dan di antara perbedaan itu,
aku belajar satu hal yang sederhana
bahwa yang paling penting
bukan bagaimana kita menyebut-Nya,
tetapi bagaimana kita menjaga
hati tetap baik
di bawah nama-Nya.
Karena suatu hari nanti,
ketika semua suara berhenti,
ketika semua perbedaan tidak lagi berarti,
mungkin yang tersisa hanyalah
niat yang pernah kita bawa
di dalam doa.
Dan aku berharap,
di antara genggaman tanganmu
dan tangan yang kuangkat ini,
akan ada satu titik
yang mempertemukan kita
bukan dalam kata yang sama,
bukan dalam cara yang sama,
tetapi dalam satu makna
yang paling sederhana:
sebuah “amin”
yang tidak lagi terpisah.
Aceh, 1 April 2026
(Puisi ini ditulis dengan bantuan AI berdasarkan gagasan dan arahan penulis).
*** Puisi “Di Antara Cara Kita Menyebut-Nya” adalah refleksi tentang keberagaman keyakinan yang hidup berdampingan dalam satu ruang kemanusiaan. Puisi ini tidak berbicara tentang perbedaan sebagai batas, melainkan sebagai jalan yang berbeda menuju tujuan yang sama, Tuhan.
Melalui simbol-simbol seperti lonceng dan adzan, tasbih dan rosario, serta kiblat dan salib, puisi ini menggambarkan dua cara beribadah yang berbeda, namun memiliki esensi yang serupa: mencari ketenangan, memohon, dan berserah. Perbedaan tersebut tidak diposisikan sebagai pertentangan, tetapi sebagai bentuk keindahan dalam keberagaman.
Puisi ini juga menekankan bahwa pada dasarnya manusia memiliki kesamaan yang lebih dalam dibanding perbedaannya. Setiap manusia pernah merasa kecil di hadapan Tuhan, pernah berdoa dengan harapan, dan pernah mencari arah pulang dalam hidupnya. Dalam titik itu, semua perbedaan menjadi tidak terlalu penting.
Pesan utama dari puisi ini adalah tentang toleransi dan kemanusiaan. Bahwa menyebut Tuhan dengan cara yang berbeda bukanlah alasan untuk terpisah, melainkan kesempatan untuk saling memahami. Puisi ini mengajak pembaca untuk melihat bahwa yang paling penting bukanlah bagaimana seseorang berdoa, tetapi bagaimana ia menjaga hatinya tetap baik dalam kehidupan sehari-hari.
Bagian penutup puisi menjadi inti paling kuat, yaitu harapan bahwa semua perbedaan tersebut suatu hari dapat bertemu dalam satu makna yang sama, sebuah “amin” yang tidak lagi terpisah. Ini melambangkan persatuan dalam keberagaman, di mana manusia tetap bisa berjalan bersama meskipun memiliki keyakinan yang berbeda.
Secara keseluruhan, puisi ini adalah pengingat lembut bahwa di tengah dunia yang sering dipenuhi perbedaan, masih ada ruang untuk saling memahami, menghormati, dan berjalan berdampingan sebagai sesama manusia.

Post a Comment