Di Meja Kayu, Kita Kehilangan Sesuatu Puisi Tentang Kopi di Sore Hari

Table of Contents
Di Meja Kayu, Kita Kehilangan Sesuatu Puisi Tentang Kopi di Sore Hari

Kopi di Cangkir Tua
Oleh Muraz Riksi

Mereka duduk di mejanya masing-masing
Kopi itu tergeletak di atas meja kayu 
Di tempat yang teduh, pada cangkir tua aromanya menguap diantara udara yang tanpa jeda ku hirup
Angin menghembus dari belakangku, begitu tenang mungkin hujan enggan menyapa

Kopinya aku seruput pelan-pelan
Seperti impian yang menyeret kehidupanku
Atau mungkin aku yang terperangkap pada keinginan yang tak sanggup aku pikul sendiri
Wajah-wajah mereka membisu, mereka ingin sesekali tertawa namun wajah mereka tersekat oleh harapan yang perlahan menghilangkan kewarasan

Antara tuntutan atau belenggu yang tidak lagi manusiawi
Atau kebijakan yang diatur tidak lagi melihat pada orang-orang kecil
Mereka telah hidup nyaman dengan segala tunjangan hidup
Lalu orang-orang kecil disana disuruh bertahan dengan segala badai kehidupan

Mungkin juga sebenarnya kebijakan yang dibuat telah benar
Hanya saja diantara orang-orang kecil ada yang menyamar
Menipu kebijakan yang telah ada, mereka berpura-pura menjadi lemah
Padahal hidupnya telah mendekati kata lebih dari cukup

Mereka sanggup membeli sesuatu yang pada nyatanya tidak mampu dibeli oleh orang-orang yang mendapatkan gaji bulanan
Apa yang sebenarnya yang telah hilang?
Yang hilang bukan suara, tapi kejujuran yang diam-diam dikubur
Mereka berani memudarkannya hanya untuk mendapatkan hak orang lain

Aku tidak sedang membela orang-orang yang bertugas membuat kebijakan
Nyatanya mereka terus berupaya mengentaskan kehidupan yang lemah
Berbagai macam data dikumpulkan, berbagai macam survei dilakukan
Lantas mengapa sudah sejauh ini masih banyak kehidupan yang lemah?
Jawabku masih tentang kejujuran

Kejujuran itu adalah sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan angka
Mereka berani menutupinya dengan tirai kebohongan
Di meja kayu aku Kembali menyeruput kopi dalam cangkir tua ini
Jalan raya dipenuhi mobil-mobil mewah, kendaraan roda terbaru membanjiri jalan raya disana

Aku terus berpikir, dimana letaknya kehidupan yang lemah itu?
Saat kita berbicara tentang data, saat kita berbicara tentang fakta, saat kita membicarakan aturan yang ada
Mereka dengan penuh emosi menyalahkan, dengan penuh kebencian menyebut kesalahan 
Padahal mereka sendiri yang telah luput dari kejujuran

Mereka mengkhawatirkan masa depan tapi terus-terusan mengabaikan panggilan Tuhan
Mereka menuntut kebijakan tapi mereka sendiri abai dengan aturan
Hari ini aku sadar satu hal, bagaimanapun yang namanya perbaikan
Hal itu takkan terwujud tanpa adanya pondasi kejujuran
Aceh, 02 April 2026

*** “Kopi di Cangkir Tua” adalah refleksi sunyi tentang realitas sosial yang sering luput dari kesadaran kita. Dalam suasana sederhana, segelas kopi di atas meja kayu membawa pembaca masuk ke dalam perenungan yang lebih dalam: tentang kejujuran, ketimpangan, dan wajah manusia di balik sistem.

Puisi ini tidak sekadar bercerita tentang individu yang menikmati kopi, tetapi tentang banyak “mereka” yang hidup dalam tekanan, tuntutan, dan harapan yang perlahan mengikis kewarasan. Di balik diamnya wajah-wajah itu, tersimpan kegelisahan tentang kehidupan yang tidak selalu adil.

Menariknya, puisi ini tidak berpihak secara mutlak. Ia tidak sepenuhnya menyalahkan kebijakan, namun juga tidak menutup mata terhadap realitas bahwa ada manipulasi di antara masyarakat itu sendiri. Ada ironi yang disampaikan dengan halus bahwa terkadang, ketidakadilan bukan hanya datang dari atas, tetapi juga tumbuh dari dalam diri manusia yang kehilangan kejujuran.

“Kopi di Cangkir Tua” pada akhirnya adalah pengingat:
bahwa perbaikan tidak hanya bergantung pada sistem, tetapi pada pondasi paling dasar yang sering diabaikan kejujuran.


***
Demikian teks Puisi Tentang Kopi di Sore Hari.

(Catatan Penutup)
Terima kasih telah berkunjung ke website Sampah Kata.
Salam kopi pahit...

Post a Comment