Kami Hanya Ingin Punya Rumah Cerita yang Menyentuh Hati

Table of Contents
Kami Hanya Ingin Punya Rumah Cerita yang Menyentuh Hati

Kami Hanya Ingin Punya Rumah

Setiap tanggal muda, mereka selalu merasa hidup masih baik-baik saja.

Gaji baru masuk.
Dompet masih terisi.
Belanja dapur masih bisa lengkap.
Anak mereka masih bisa dibelikan susu tanpa harus menghitung uang terlalu lama di depan kasir.

Tetapi semuanya berubah perlahan setelah minggu kedua.

Uang mulai menipis tanpa mereka tahu ke mana perginya.

Tagihan listrik.
Uang kontrakan.
Gas.
Bensin.
Iuran sekolah.
Belum lagi kebutuhan kecil yang sering dianggap sepele, tetapi diam-diam menghabiskan banyak uang.

Sampai akhirnya mereka kembali menjalani kebiasaan yang sama setiap bulan:
menghitung sisa uang di malam hari sambil berharap masih cukup sampai gajian berikutnya.

Di sebuah kontrakan kecil di pinggir kota, hiduplah pasangan suami istri bersama seorang anak perempuan berusia lima tahun.

Rumah itu sempit.
Dindingnya lembap saat musim hujan.
Atapnya sering bocor di beberapa bagian.
Jika siang terlalu panas, ruangan terasa pengap seperti oven.

Tetapi di situlah mereka tinggal.
Di situlah mereka tertawa.
Dan di situlah mereka diam-diam menyimpan mimpi tentang sebuah rumah sendiri.

Suaminya bekerja sebagai karyawan toko bangunan.
Berangkat pagi ketika matahari belum tinggi.
Pulang malam dengan tubuh penuh lelah dan bau debu semen yang menempel di baju.

Sedangkan istrinya kadang menerima jualan kecil-kecilan dari tetangga.
Menjual gorengan.
Membuka pesanan kue.
Apa saja yang bisa menambah uang belanja.

Mereka bukan pemalas.
Mereka bekerja hampir setiap hari.

Tetapi hidup sekarang memang terasa mahal bagi orang-orang biasa.

Suatu malam, mereka makan sambil duduk lesehan di lantai.

Menu makan malam hanya sayur bening dan ikan asin.
Anaknya tetap makan lahap sambil bercerita tentang sekolah.

“Ayah, tadi di sekolah aku ditanya cita-cita.”

“Apa jawabmu?” tanya ayahnya sambil tersenyum.

“Aku mau punya rumah besar supaya Ayah sama Ibu nggak pindah-pindah lagi.”

Sendok di tangan laki-laki itu berhenti sesaat.

Istrinya menunduk pelan.

Kalimat itu terdengar sederhana keluar dari mulut anak kecil.
Tetapi bagi orang tua yang setiap tahun harus pindah kontrakan karena harga sewa naik, kalimat itu terasa menyesakkan.

Mereka memang sering pindah.

Kadang karena kontrakan dijual pemiliknya.
Kadang karena uang sewanya naik.
Kadang karena mereka sudah tidak sanggup membayar.

Setiap kali pindah rumah, mereka selalu berpura-pura bahagia di depan anaknya.

Padahal mereka lelah.

Lelah mengangkat lemari.
Lelah membungkus piring dengan koran bekas.
Lelah memulai semuanya dari awal lagi.

Dan yang paling melelahkan adalah rasa gagal yang terus menghantui.

Sebagai seorang suami, laki-laki itu sering merasa dirinya belum benar-benar berhasil.

Usianya hampir kepala tiga.
Sudah menikah.
Sudah punya anak.

Tetapi sampai hari ini, ia belum mampu memiliki rumah sendiri.

Padahal dulu waktu masih muda, ia berpikir bekerja keras saja sudah cukup untuk hidup layak.

Ternyata tidak sesederhana itu.

Harga rumah naik setiap tahun.
Harga tanah terasa mustahil dijangkau.
Cicilan terasa menakutkan.
Sementara gajinya hampir tidak pernah berubah.

Kadang ia duduk sendirian malam-malam sambil membuka video rumah subsidi di ponselnya.

Dilihatnya rumah-rumah kecil dengan dinding putih dan halaman sempit.

Sederhana sekali sebenarnya.

Tetapi bahkan untuk rumah sesederhana itu, ia masih belum mampu.

Ia pernah mencoba menghitung tabungan.

Kalau mereka benar-benar hemat…
kalau tidak ada motor rusak…
kalau anak tidak sakit…
kalau tidak ada kebutuhan mendadak…

Mungkin lima atau enam tahun lagi uang muka rumah bisa terkumpul.

Tetapi hidup tidak pernah berjalan sesuai hitungan orang kecil.

Bulan lalu anak mereka demam dan harus dirawat.
Tabungan habis.
Beberapa hari kemudian motor mogok.
Uang habis lagi.

Begitulah hidup mereka.

Baru mencoba berdiri, sudah ada kebutuhan lain yang menarik kaki mereka kembali jatuh.

Suatu malam hujan turun deras.

Air mulai menetes dari plafon kontrakan.

Mereka buru-buru memindahkan ember ke tengah ruangan.

Anaknya yang baru bangun dari tidur bertanya polos,
“Rumah kita kenapa bocor terus?”

Ayahnya terdiam.

Ia ingin menjawab banyak hal.
Tentang keadaan.
Tentang uang.
Tentang kerasnya hidup.

Tetapi yang keluar hanya,
“Nanti Ayah benerin.”

Padahal ia tahu, yang bocor bukan hanya atap rumah mereka.

Ada banyak hal dalam hidup mereka yang perlahan ikut retak:
tenaga,
harapan,
dan rasa tenang.

Besok paginya, laki-laki itu kembali bekerja seperti biasa.

Naik motor tua dengan bensin yang tinggal sedikit.
Menerobos jalanan kota yang penuh debu dan panas.

Di lampu merah, matanya berhenti pada sebuah billboard besar berisi iklan perumahan.

“Rumah Nyaman untuk Keluarga Bahagia.”

Ia tersenyum kecil.

Kalimat-kalimat iklan memang terdengar indah bagi orang yang punya uang.

Sementara bagi orang seperti dirinya, rumah sering kali bukan soal nyaman atau mewah.

Rumah hanyalah mimpi sederhana:
tempat pulang tanpa takut diusir,
tempat anak bisa tumbuh tanpa harus pindah-pindah,
tempat istrinya tidak lagi cemas memikirkan uang kontrakan setiap tahun.

Malam harinya, setelah anak mereka tidur, istrinya berkata pelan,
“Kalau nanti kita belum bisa punya rumah juga, nggak apa-apa ya?”

Laki-laki itu menatap istrinya lama.

Ada mata lelah di sana.
Ada perempuan yang setiap hari berusaha kuat walau sering menangis diam-diam saat menghitung uang belanja.

Ia menggenggam tangan istrinya perlahan.

“Kita nggak gagal,” katanya lirih.
“Kita cuma hidup di zaman yang semuanya mahal.”

Di luar sana, mungkin ada banyak keluarga yang hidup seperti mereka.

Bekerja setiap hari.
Berusaha jujur.
Tidak bermalas-malasan.

Tetapi tetap kesulitan memiliki rumah.

Dan mungkin itulah yang paling menyakitkan dari hidup hari ini:
bukan karena orang-orang tidak mau berusaha,
tetapi karena setelah bekerja sekeras apa pun,
mereka tetap merasa terlalu miskin untuk sekadar punya tempat tinggal sendiri.

Malam kembali sunyi.

Lampu kontrakan dimatikan.

Di ruangan kecil itu, tiga orang tidur berdekatan.

Sementara di luar, kota terus berjalan seperti biasa.

Harga-harga akan kembali naik.
Tagihan akan datang lagi.
Besok hidup mungkin tetap berat.

Tetapi seperti kebanyakan keluarga kecil lainnya,
mereka akan tetap bangun pagi,
tetap bekerja,
tetap bertahan,
dan tetap menyimpan satu mimpi sederhana yang belum juga tercapai:

memiliki rumah…
yang benar-benar bisa mereka sebut sebagai rumah sendiri.

Post a Comment