Rumah yang Selalu Mereka Sebut dalam Doa Cerita yang Menyentuh Hati

Table of Contents
Rumah yang Selalu Mereka Sebut dalam Doa Cerita yang Menyentuh Hati

Rumah yang Selalu Mereka Sebut dalam Doa

Malam itu hujan turun pelan di atas atap kontrakan yang bocor di beberapa bagian. Ember biru diletakkan di sudut ruang tamu untuk menampung air yang jatuh setetes demi setetes. Suaranya kecil, tetapi cukup terdengar di tengah keheningan malam.

Di rumah sederhana itu, seorang ayah baru saja pulang kerja.

Bajunya masih basah oleh gerimis. Sepatunya penuh debu jalanan. Ia duduk perlahan di lantai sambil melepas helm yang warnanya mulai pudar dimakan waktu.

“Capek, Bang?” tanya istrinya pelan dari dapur kecil.

Laki-laki itu hanya tersenyum tipis.

“Lumayan.”

Jawaban sederhana yang sebenarnya menyimpan banyak hal.

Tentang jalanan macet.
Tentang bensin yang naik lagi.
Tentang uang belanja yang semakin sulit cukup sampai akhir bulan.
Tentang dirinya yang diam-diam menghitung sisa isi dompet sebelum pulang.

Di dapur, istrinya sedang menggoreng tempe dan telur dadar tipis. Mereka sudah lama belajar bahwa hidup bukan soal makan enak setiap hari, melainkan bagaimana tetap bisa makan bersama.

Anak mereka yang masih kecil berlari membawa buku gambar.

“Yah, lihat rumah yang aku gambar.”

Si ayah menerima kertas itu perlahan.

Di sana ada gambar rumah sederhana. Atap merah. Pintu cokelat. Pohon kecil di depan rumah. Dan tiga orang berdiri sambil tersenyum.

“Ada aku, Ayah, sama Ibu,” kata anak itu bangga.

Ayahnya tersenyum lebih lebar kali ini.

“Bagus sekali.”

Padahal di dalam dadanya, ada sesuatu yang terasa sesak.

Sebab rumah itu…
adalah rumah yang belum mampu ia berikan.

Mereka sudah bertahun-tahun tinggal berpindah-pindah kontrakan. Kadang harus pindah karena harga sewa naik. Kadang karena pemilik rumah ingin rumahnya dipakai sendiri.

Setiap kali pindah, mereka mengemas hidup ke dalam kardus-kardus lusuh.

Piring.
Baju.
Mainan anak.
Harapan yang belum selesai.

Istrinya pernah berkata pelan suatu malam, “Aku sebenarnya tidak malu hidup sederhana. Aku cuma ingin kita punya rumah sendiri. Rumah kecil juga tidak apa-apa.”

Kalimat itu sederhana, tetapi terus tinggal di kepala suaminya.

Sejak saat itu, laki-laki itu mulai sering membuka video rumah murah di internet. Melihat cicilan-cicilan yang katanya ringan. Melihat dapur minimalis. Ruang tamu kecil. Halaman sempit yang cukup untuk menjemur pakaian.

Kadang ia membayangkan dirinya pulang kerja ke rumah itu.

Anaknya berlari menyambut di depan pintu.
Istrinya memasak di dapur sendiri.
Tak ada lagi rasa takut disuruh pindah.

Tetapi setiap kali melihat harga rumah, ia kembali terdiam.

Gajinya tidak pernah benar-benar bertambah.
Sementara harga rumah terus melompat seperti sesuatu yang tidak mau menunggu orang kecil.

Harga beras naik.
Listrik naik.
Biaya sekolah naik.
Bahkan minyak goreng pun terasa semakin mahal.

Tetapi penghasilannya tetap berjalan di tempat.

Mereka bukan tidak bekerja keras.

Ia berangkat pagi sebelum matahari benar-benar muncul.
Pulang saat langit hampir gelap.
Kadang mengambil lembur.
Kadang menahan lapar agar uang makan bisa dihemat sedikit.

Istrinya juga membantu berjualan kecil-kecilan dari rumah. Kadang ada yang membeli, kadang tidak.

Namun tetap saja, menabung terasa seperti mengisi ember bocor.

Ada saja kebutuhan mendadak yang datang.

Anak sakit.
Motor rusak.
Tagihan menumpuk.

Tabungan yang baru terkumpul sedikit perlahan habis lagi.

Suatu malam listrik padam di kontrakan mereka.

Mereka duduk di depan rumah ditemani cahaya lilin kecil.

Anaknya tertidur di pangkuan ibunya.

Lalu laki-laki itu berkata pelan, hampir seperti bicara kepada dirinya sendiri.

“Entah kapan kita bisa punya rumah.”

Istrinya menatapnya lama.

“Tidak apa-apa kalau belum sekarang,” katanya lirih.
“Kita belum gagal hanya karena belum sampai.”

Kalimat itu sederhana.
Tetapi terkadang, manusia memang bertahan hidup karena beberapa kalimat kecil yang menguatkan.

Di luar sana, banyak keluarga seperti mereka.

Orang-orang yang bekerja setiap hari tanpa malas.
Orang-orang yang bukan ingin hidup mewah.
Mereka hanya ingin rumah sederhana tempat pulang.

Tempat yang tidak membuat mereka takut dipindahkan.
Tempat yang membuat anak-anak merasa aman.
Tempat untuk menua bersama.

Namun hidup sekarang terasa semakin berat bagi banyak orang kecil.

Harga kebutuhan naik perlahan, seperti air yang memenuhi perahu sedikit demi sedikit.
Tidak langsung tenggelam.
Tetapi pelan-pelan melelahkan.

Sedangkan gaji tetap sama.

Dan pada akhirnya, banyak orang mulai terbiasa memendam impian.
Bukan karena mereka berhenti ingin memiliki rumah,
tetapi karena keadaan memaksa mereka belajar menerima.

Malam semakin larut.

Hujan mulai reda.

Di dalam kontrakan kecil itu, ayah tadi memindahkan ember yang hampir penuh air hujan.

Lalu ia melihat anaknya yang tertidur sambil memeluk gambar rumah buatannya sendiri.

Laki-laki itu tersenyum kecil.

Besok pagi ia akan kembali bekerja.
Kembali menghadapi hidup yang keras.
Kembali berpura-pura kuat di depan dunia.

Sebab ada satu hal yang membuatnya terus bertahan:

Harapan kecil tentang sebuah rumah…
yang sampai hari ini masih mereka sebut dalam doa.

Post a Comment