HANCURNYA BAITI JANNATI Puisi Sedih Tentang Pernikahan Paling Menyentuh Karya Rita Mayasari
Table of Contents
"HANCURNYA BAITI JANNATI"
Karya: Rita Mayasari
Untukmu yang Allah mahkota kan gelar suami,
Hari itu kau menggetarkan Arsy Allah saat melafazkan mitsaqan ghalizha..
Kau buat aku menjadi bagian perjanjian sucimu dengan Allah..
Menjadi bagian dari gambaran surah An Nisa ayat 21..
Kita lalui tak terhitung hari dengan mengukir semua rasa..
Tawa, canda, sedih, duka, kecewa, amarah dan air mata, namun kita tetap bersama..
Kau menjadi satu-satunya sandaranku setelah Tuhanku..
Bagiku, kau adalah duniaku..
Aku berfikir cukup ada disisimu, tak pernah beranjak meninggalkanmu dalam keadaan apapun adalah bukti bahwa hanya kau satu-satunya bagiku..
Aku belajar menjadi wanita yang tau caranya bertutur lembut memanjakan telingamu..
Meski mungkin rupaku pun tak akan pernah cukup untuk membuat indah pemandangan matamu, aku belajar berhias untukmu..
Namun, aku yang tak pandai melayanimu dengan pelayanan kehambaan ternyata tetap membuatmu merasa sendirian, terjebak dalam sunyi diluaran, namun menghancurkan mu dengan kebisingan dari dalam..
Hari berganti tahun..
Aku masih disini,
Menemanimu melalui badai demi badai kehidupan yang berkali-kali hampir membuat kita karam..
Aku tak pernah beranjak dari sisimu..
Menguatkan nahkoda kapal yang terlihat begitu tangguh dimataku..
Perjalanan kita begitu berat..
Tapi kita masih bertahan..
Itu yang aku pikirkan..
Goresan demi goresan yang melukai dalam perjalanan hidup aku nikmati dalam diam..
Hingga tanpa aku sadari, aku kehilangan jati diri..
Aku lupa caranya menunjukkan senyuman hangat..
Aku lupa caranya bertingkah manja..
Aku tak lagi ingat bagaimana caranya seorang isteri harus bertutur lembut, memberi kenyamanan dan ketenangan bagi suaminya..
Diam dan tenang mu pun membuatku semakin tenggelam, tersesat dalam ilusi bahwa kita masih baik-baik saja..
Kita tetap berjalan beriringan..
Tanpa suara..
Sepi mengisi ruang hampa yang menciptakan jarak tak terlihat antara kita..
Entah hanya aku, atau mungkin kau juga belum menyadarinya, bahwa kita perlahan sibuk dengan rasa sakit masing-masing..
Atau mungkin kita sedang menipu diri, meyakinkan hati bahwa kita masih sama..
Hari itu, kau ungkap kerinduanmu akan hadirnya kembali suara tangis bayi perempuan, sembari menatapku dengan senyuman yang penuh khayalan tentang masa depan..
Aku tersenyum seolah dapat melihat bayangan apa yang tergambar dalam pikiranmu..
Sembilan tahun berlalu setelah kelahiran anak keduaku..
Allah titipkan zuriyat di rahimku..
Bayi perempuan, sesuai dengan pintamu..
Damainya Idul Fitri menjadi saksi debaran bergemuruh di dadaku saat menyampaikan kabar itu padamu..
Kau tersenyum dan mengucapkan terimakasih sambil mengecup keningku..
Hangat sekali..
Membuatku berkhayal dalam diam, bahwa aku mau memulai awal yang baru..
Aku akan kembali belajar menjadi rumah yang nyaman untukmu dan para buah hati kita nanti..
Karena segalanya mulai terlihat membaik dimataku..
Namun nyatanya mengandung di usia yang tak lagi muda, tak mampu membuatku jadi wanita tangguh dihadapanmu..
Aku tak bisa melayanimu, tak mampu memberi kenyamanan bahkan gagal mengukir senyuman dibibirmu tiap kau pulang dengan rasa lelah..
Rumah sakit menjadi rumah ke-dua ku selama 5 bulan usia kehamilan..
Menciptakan jarak yang melebar diantara kita..
Hari-hari ku lalui menatap dinding putih kosong di sekeliling ku tanpa ada dirimu yang menemani..
Aku kerap menangis dalam diam..
Meratapi kesendirian, namun tetap tak ku suarakan..
Sebab aku merasa kau perlahan mulai menjadi sosok yang begitu asing..
Tiap kau datang dalam hitungan jam, tak pernah ada senyuman, tak ada belaian, bahkan tak ada tatapan..
Kau dengan duniamu yang tak mampu kulihat..
Lalu tiba masanya aku pulang..
Sambutanmu biasa saja..
Tak ada isyarat kerinduan..
Saat sampai ditempat yang biasa aku sebut rumah, aku tak menemukan rumah kita..
Hanya ada reruntuhan..
Aku terlambat...
Kenyataan itu tidak hanya meruntuhkan rumahku..
Ia meleburkan duniaku bersama pengkhianatan..
Saat semua terungkap nyata, aku tak menunggu kata maafmu..
Karena bagiku aku andil dalam menciptakan monster didalam dirimu..
Aku hanya berharap tetap menjadi yang kau pilih..
Karena aku terus melakukan hal yang sama selama pernikahan kita..
Pilihan selalu datang menghampiriku..
Menawarkan segalanya yang lebih indah jika aku meninggalkan mu..
Namun berulang kali pun aku tetap memilihmu..
Karena sejak kau ucapkan ijab qobul, bagiku kau adalah awal dan akhir pencarianku..
Meski terluka begitu parah, aku masih memilih menjahitnya bersamamu, lalu kita sembuh bersama..
Tapi kau memilih untuk mendorongku menjauh..
Kau pilih dia dan menghancurkan bahtera rumah tangga kita..
Lalu aku?
Sambil berdarah-darah, aku memohon padamu, agar tetap punya tempat disisimu meski dia lah yang kini dalam peluk hangatmu..
Mungkin inilah sisa dari jejak indah perjalanan kita, kau biarkan aku tetap disampingmu, sambil menyaksikan bagaimana kau gelisah dan terlihat bersalah padanya saat harus tetap bersamaku..
Aku tak lagi mendapat hak untuk cemburu..
Karena bagimu, aku sudah tau segalanya dan kau tak pernah memaksaku untuk tetap tinggal disisimu..
Aku harus mengerti bahwa ada dia yang kini menggantikan tempatku..
Yang memenuhi semua ruang kosong dihati dan pikiranmu..
Aku mencoba tersenyum saat mendengar kata-kata itu..
Aku katakan bahwa aku baik-baik saja..
Selama Bidadari didalam kandunganku memiliki kesempatan mendengar azan pertama dari ayahnya, akan aku nikmati tiap luka yang menghancurkan seluruh hatiku, lalu merakitnya kembali untuk dihancurkan lagi..
Suamiku..
Aku bahkan masih mencintaimu diantara semua airmata yg mengiringi doa-doaku..
Sakit sekali rasanya..
Ternyata cinta bukan tentang siapa yang bertahan, tapi tentang siapa yang diperjuangkan..
Meski kini kau katakan kata pisah tak akan lagi keluar dari mulutmu, dan tak akan ada pernikahan bagimu selain aku..
Nyatanya tetap dia yang kau cari..
Tetap dia yang kau perjuangkan keberadaannya..
Tetap dia yang kau berikan hak untuk cemburu..
Tetap dia yang menjadi alasan kau tersenyum melihat layar ponselmu..
Tetap dia yang yang memiliki semua waktumu..
Dia yang bebas menghubungimu kapanpun, dan kau akan selalu memberikan respon tercepatmu meski kau sedang disampingku..
Sementara aku?
Tak akan ada balasan dari pesan teks ku jika kau sedang bersamanya..
Saat bersamaku pun pikiranmu bersamanya..
Suamiku..
Meski kau berkata tak melibatkan cinta diantara kau dan dia, tapi berbeda dengan tindakanmu..
Kau terus melangkah ke arah mana kau bisa menemukan dia..
Kau hibur sedihnya..
Kau isi kerinduannya..
Kau hapus air matanya..
Kau penuhi hasratnya..
Kau datang kapanpun ia memintanya..
Suamiku, percayalah...
Aku tidak hanya mencintai sisi baikmu..
Aku bahkan mencintai sisi hitammu..
Aku memahami yang kau sembunyikan..
Kau sangat mencintai dia..
Beruntungnya dia dicintai sebesar itu olehmu..
Cinta yang bahkan tak pernah kudengar lagi darimu entah sejak kapan pun aku tak mampu mengingatnya..
Sebab sudah terlalu lama..
Cinta yang ku perjuangkan namun tak pernah dapat ku raih..
Suamiku, taukah kau?
Aku pernah berdoa agar mati saja saat melahirkan nanti..
Karena terlalu berat hidup disisimu, sambil menyaksikan kau yang menyulam cinta untuk wanita lain diatas lukaku..
Padahal pilihan selalu ada..
Kau bisa memilih membunuh cinta yang terlarang itu, lalu belajar mencintaiku kembali..
Merajut mimpi kita yang sempat hancur lebur..
Membangun kembali baiti usrah kita bersama malaikat-malaikat kecil kita..
Sayang, sungguh... Pilihan ada ditanganmu..
Jika aku dan anak-anakmu memang pilihanmu, kita pasti tetap bersatu..
Namun kau memang sudah memilih..
Kau pilih dia menggantikan kami yang terlebih dulu ada dihidupmu..
Tanjungpinang, Agustus 2026
Baca Juga : Puisi-Puisi Karya Rita Mayasari lainnya
***
Demikian Puisi Paling Sedih yang menyentuh hati Rita Mayasari.
(Catatan Penutup)
Terima kasih telah berkunjung ke website Sampah Kata.
Salam kopi pahit...
Demikian Puisi Paling Sedih yang menyentuh hati Rita Mayasari.
(Catatan Penutup)
Terima kasih telah berkunjung ke website Sampah Kata.
Salam kopi pahit...

Post a Comment