KOBARAN YANG KAMI WARISI PUISI PRAY FOR KALIMANTAN KARYA D'carlos

Table of Contents
KOBARAN YANG KAMI WARISI PUISI PRAY FOR KALIMANTAN KARYA D'carlos

"KOBARAN YANG KAMI WARISI"
D’carlos

lagi dan lagi,
hutan di Kalimantan
menjadi kobaran yang mengerikan.

bukan lagi api kecil
yang mati setelah disiram hujan,
melainkan bara
yang menjalar dari tanah ke tanah,
menghitamkan langit,
mengusir kehidupan
dari rumahnya sendiri.

asap datang membawa sesak,
api datang membawa kehilangan,
dan kami hanya berdiri
memandang merah di kejauhan,
seolah tak ada lagi kata
untuk mencegahnya.

seolah-olah
pasrah adalah satu-satunya
cara kami bertahan.

tetapi aku bertanya:

"siapa yang harus bertanggung jawab
atas kebakaran ini?"

apakah petani
yang hanya ingin menanam
di tanah yang menjadi sumber hidupnya?

atau korporasi
yang melihat hutan
sebagai angka dalam laporan keuntungan?

jangan buru-buru menunjuk
kepada tangan yang paling lemah,
ketika ada tangan-tangan besar
yang mungkin tak pernah terlihat
di balik asap.

sebab kobaran ini
bukan kejadian baru.

tahun berganti,
musim berganti,
tetapi api
seperti selalu menemukan jalan
untuk kembali.

kemudian kita menyebutnya
musim kemarau.

kita menyebutnya
bencana.

kita menyebutnya
kehendak Ilahi.

lalu kesalahan manusia
perlahan kita kuburkan
bersama abu dan arang.

"benarkah semua ini
hanya kehendak Tuhan?"

atau kita sedang mencari nama yang suci
untuk menutupi kesalahan
yang dilakukan manusia?

wahai penguasa,
apakah asap belum cukup
untuk membuat matamu terbuka?

apakah hutan yang terbakar
belum cukup
untuk membuat kakimu melangkah?

kami tidak meminta
kau datang setelah semuanya habis.

kami ingin kau hadir
ketika api baru dinyalakan.

kami ingin hukum
sebelum kobaran.

kami ingin pencegahan
sebelum korban.

kami ingin keadilan
sebelum semuanya
menjadi sekadar berita.

lalu apakah kami
hanya akan diam dan menanti?

menunggu hutan habis,
menunggu udara sesak,
menunggu rumah terbakar,
kemudian menyebut semuanya
sebagai takdir?

"tidak."

hari ini kami bertanya.

hari ini kami menuntut jawaban.

hari ini kami ingin tahu
siapa yang menyalakan api,
siapa yang membiarkannya menjalar,
dan siapa yang mendapatkan keuntungan
ketika hutan kami kehilangan nyawa.

karena Kalimantan
bukan sekadar tanah.

ia adalah rumah.

ia adalah sungai
tempat kami pernah bermain.

ia adalah hutan
tempat kami pernah mencari kehidupan.

ia adalah udara
yang selama ini
kami hirup tanpa pernah bertanya
siapa yang menjaganya.

jangan sampai suatu hari
anak-anak kami bertanya:

“Ayah,
di mana hutannya?”

dan kami hanya mampu menunjuk
ke arah langit yang kelabu,

lalu berkata:

“Dahulu, Nak,
di sana pernah ada hutan."
21 Agustus 2026


***
Demikian Puisi tentang Cinta Paling Sedih yang menyentuh hati Karya D'carlos.

(Catatan Penutup)
Terima kasih telah berkunjung ke website Sampah Kata.
Salam kopi pahit...

Post a Comment