Sebuah Makam di Dadaku Genre Prosa Liris Karya Kei Naz

Table of Contents
Sebuah Makam di Dadaku Puisi Karya Kei Naz

Sebuah Makam di Dadaku

Malam ini, namamu kulepas ke langit. Bersama selarik pinta yang meninggalkan ngilu paling tajam di dinding tenggorokan, “bahagiakan ia, Tuhan.” Meski senyumnya tak lagi mekar di halamanku.

Sesederhana itu. Namun doa rupanya bertulang muda. Ia retak tepat di langit-langit mulut sebelum sempat lepas, menyisakan serpihan tajam yang menancap permanen di dada.

(Bodoh sekali. Kenapa masih saja kuharapkan ia menoleh sebelum benar-benar hilang?)

Aku tak meminta langkahmu berbalik. Tidak pula memohon semesta menjahit jalan yang terlanjur koyak. Jika jurang adalah satu-satunya bentangan gelap di antara kita, biarlah aku berdiri di bibirnya seorang diri. Renjana itu sudah terlalu lama ku rawat. Kini yang tersisa hanya bau tanah basah dan akar yang enggan mati.

Maka ku tatap halaman yang kehilangan musimnya, lalu menitipkan mu kepada sepasang lengan asing yang kelak memelukmu. Semoga ia telaten membaca kelam di matamu. Semoga tangannya tahu bagian mana yang pernah gagal ku jaga. Semoga ia mencintaimu tanpa harus belajar dari kehilangan.

(Tolong, jangan biarkan ia terluka seperti aku. Atau... biarkan saja, asal bukan olehku? Ah, betapa hinanya kepala ini.)

Doa itu meninggalkan sisa rasa logam di lidah kelat darah dan kepasrahan yang pekat. Tetapi tetap kulepaskan. Sebab ada hal-hal yang harus dikabulkan Tuhan tanpa harus disaksikan orang yang memintanya.

Maka, melangkah lah engkau. Bawa segala kenangan yang belum hangus. Jangan repot memulangkan apa pun. Sisa rasa yang berserakan itu biar menjadi urusanku. Akan ku pungut satu-satu. Bukan untuk disatukan kembali. Hanya agar tidak ada yang menginjaknya.

Jika di suatu senja kau menoleh dan bertanya apakah aku benar-benar telah melepaskan mu, mungkin aku hanya akan tersenyum. Ada nama yang sudah berhenti kusebut, tetapi belum selesai tinggal. Ia bersembunyi di sela napas, di kursi kosong, di lirik lagu-lagu kepedihan.

Aku tak lagi menunggumu. Sisa hariku meski terasa hampa, tetap ku tepis segala angan yang menginginkan mu.

(Atau mungkin aku memang tidak akan pernah sanggup terbiasa?)

Malam ini, namamu rampung ku titipkan kepada Tuhan. Setelah ini, biarlah Dia yang menjagamu. Aku akan membawa pulang sunyi yang tersisa, mengunci pintu, dan membiarkan dinding-dinding rumah ini meredam sisa bayang yang lelah mengeja pulang.

Jika suatu hari kabar tentang bahagiamu sampai kepadaku, semoga ia datang sebagai angin yang lewat di halaman terasa sebentar, lalu pergi tanpa mengetuk pintu. Dan jika kelak waktu merobek sisa memori di kepalamu, membuatmu terkenang bahwa pernah ada rahim doa yang merawat namamu di sepertiga malam, jangan pernah repot mencari ku. Sebab tanpa perlu kau cari pun, aku telah lama menguap dari lembar-lembar kisahmu, menyatu dengan tinta yang luntur.

Hanya saja, di sudut paling purba dalam rongga dada yang telantar, pada bilik ingatan yang kuncinya telah kubuang ke dasar jurang, namamu masih bernapas. Ia meringkuk dalam gelap, tak tersentuh amarah, tak terusik rindu. Kubiarkan ia tinggal di sana, sampai pada suatu musim, yang tersisa darimu hanyalah sebuah nisan di dalam dada dingin, bisu, dan tanpa airmata.

Balikpapan, September 2026
KeiNaz, menulis
Genre Prosa Liris

***
Demikian prosa karya Kei Naz. 

(Catatan Penutup)
Terima kasih telah berkunjung ke website Sampah Kata.
Salam kopi pahit...

Post a Comment