Ketika Sungai Mengamuk dan Harapan Terbawa Arus, Kisah Luka Aceh di Tengah Banjir dan Longsor
Ketika Air dan Lumpur Membawa Duka, Kisah di Aceh
Di Aceh - tanah yang subur, hijau, penuh sejarah dan harapan. Kini banyak kampung, gampong, bahkan desa yang berubah menjadi puing bukan karena human error semata, melainkan karena alam dan kondisi yang disebabkan manusia. Banjir bandang dan longsor menghantam, merenggut rumah, harapan, bahkan nyawa.
Korban terus bertambah: menurut data tanggap bencana, korban meninggal dunia telah mencapai ratusan. Dalam satu periode terbaru dilaporkan 305 orang tewas, dan 191 orang masih hilang. Tidak hanya korban nyawa; ada ratusan ribu kepala keluarga, puluhan ribu rumah yang terendam, rusak atau hilang sama sekali.
Bayangkan: keluarga terpisah, ada yang kehilangan rumah, ada yang kehilangan anggota keluarga, anak-anak yang tadinya ceria, kini harus mengungsi, tidur sempit-sempitan bersama keluarga lain, hidup dalam ketidakpastian. Dan saat harapan dan bantuan jadi satu-satunya penopang, akses saja sudah menjadi masalah besar.
Ketika Jalan, Jembatan, Penghubung Harapan Hancur
Jembatan dan jalan yang semula biasa kita lewati tanpa pikir, kini jadi saksi bisu kehancuran. Banyak ruas jalan nasional terputus, akses darat lumpuh, membuat banyak wilayah menjadi terisolir.
Di beberapa titik, relawan dan warga terpaksa melewati sungai atau jurang dengan kabel baja, atau malah menggunakan jalur darat alternatif yang jauh dan tidak layak, semua demi membawa bantuan, mengantarkan makanan, air, obat-obatan ke kampung yang seakan hilang dari peta.
Bagi banyak relawan, ini bukan sekadar logistic, ini tentang harapan hidup saudara sebangsanya. Namun sering kali, “jalur penyelamatan” itu berbayar mahal baik secara materi, waktu, tenaga, bahkan harapan. Banyak yang lelah, sedih, dan marah. Saya ikut merasakan — betapa rasanya terus berjuang, tapi medan terus menantang.
Ketika Air, Lumpur, dan Gelondongan Kayu Turun Bersama Duka
Bencana di Aceh bukan hanya tentang air bah yang merendam rumah dan memutuskan jembatan.
Bukan hanya tentang longsor yang mengubur desa-desa dalam hitungan detik.
Ada satu pemandangan yang membuat dada sesak:
banjir yang membawa kayu-kayu gelondongan, batang besar yang terhempas dari arah hutan, meluncur deras menghantam rumah, menimpa masjid, menyapu sawah, dan menewaskan orang-orang yang tak sempat menyelamatkan diri.
Kayu-kayu itu tidak jatuh dari langit.
Ia jatuh dari tubuh hutan yang dirusak, dipotong, digunduli, dipaksa menyerah pada kerakusan manusia.
Hujan bukan penyebab tunggal bencana ini.
Alam sebenarnya sudah lama memberi tanda. Sungai sudah lama mengirim sinyal. Tanah sudah lama retak dan ingin bicara. Tapi sering kali kita manusia menutup telinga.
Pada akhirnya, ketika banjir datang membawa gelondongan kayu sebesar tubuh mobil, itu bukan sekadar arus.
Itu adalah pesan keras dari alam: bahwa ketika pohon diambil, dia tidak jatuh sendirian.
Ia membawa ikut seluruh kehidupan di sekitarnya.
Rumah Hanyut, Harapan Patah Dan Kayu Besar Itu Menjadi Saksi
Di beberapa wilayah, aliran sungai dipenuhi batang raksasa yang sebelumnya tak pernah ada.
Rumah-rumah di bantaran sungai tidak hanya rusak, tetapi dihantam seolah dilemparkan ombak lumpur bercampur kayu.
Banyak warga menceritakan bagaimana suara hantaman kayu itu menimbulkan bunyi seperti gemuruh badai.
Ada keluarga yang kehilangan rumah hanya dalam satu benturan.
Ada warga yang terseret bersama pohon yang tumbang, tak sempat menghindar.
Ada desa yang seluruhnya tertutup tumpukan kayu dan lumpur setinggi dada orang dewasa.
Pemandangan itu membuat siapa pun yang melihatnya tersadar: kerusakan hutan bukan isu aktivis, ia kini jadi duka masyarakat.
Akses Putus, Relawan Terpaksa Membayar untuk Menyeberang
Saat relawan berbondong-bondong ingin masuk ke wilayah terisolir, harapan kembali tertahan oleh realitas pahit.
Banyak jembatan ambruk.
Banyak jalan lenyap ditelan longsor dan tumpukan kayu.
Akhirnya, warga dan relawan memakai penyeberangan alternatif, seperti perahu darurat, rakit buatan warga, atau jalur dari kayu balok yang disusun seadanya.
Namun yang membuat hati makin pilu adalah ini: penyeberangan alternatif itu sering berbayar karena warga setempat pun harus bertahan hidup.
Relawan yang membawa bantuan harus merogoh kocek dalam-dalam.
Sementara mereka datang bukan untuk mencari untung tapi untuk menyelamatkan orang lain.
Ada relawan yang menangis karena uang operasional habis.
Ada yang meminjam uang hanya agar bisa melanjutkan perjalanan.
Ada yang kelelahan, bukan karena fisik saja, tapi karena merasa seperti berjuang sendirian melawan medan bencana yang tak masuk akal.
Ini bukan tentang salah siapa.
Ini tentang kehidupan yang sama-sama terjepit oleh kondisi, hingga solidaritas pun harus melewati jalur berbayar.
Apa Penyebab Bencana Ini? Bukan Sekadar Hujan
Banyak ahli lingkungan telah menyampaikan hal yang sama selama bertahun-tahun:
Penggundulan hutan menyeret tanah hingga jadi rapuh.
Penebangan liar membuat bukit telanjang tak punya akar penahan.
Aliran sungai yang dipersempit oleh aktivitas manusia membuat air meluap tanpa kendali.
Saat hujan ekstrem datang, alam tidak punya lagi penopang.
Kayu-kayu gelondongan yang terseret banjir adalah bukti nyata bahwa hutan telah lama diteriaki oleh mesin, bukan lagi dininabobokan oleh angin.
Baca juga puisi Tenang Setelah Hujan, Kisah Duka Usai Banjir Bandang

Post a Comment